Pemkot Mataram Tidak Bisa Intervensi Program Subsidi Pupuk

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli. (Foto: Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, tidak bisa mengintervensi program subsidi pupuk kepada petani pangan, sebab selama ini tidak pernah ada alokasi anggarannya.

“Masalah subsidi pupuk untuk petani pangan, pemerintah daerah tidak pernah intervensi sebab tidak ada anggaran. Selama ini, bantuan ke petani kami berikan dalam bentuk sarana dan alat produksi,” kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Kamis.

Pernyataan tersebut dikemukakan menanggapi program subsidi pupuk terutama pupuk jenis urea dari pemerintah yang terus menurun, dan terjadi kenaikan harga sehingga petani mengeluh.

Setiap tahun, sambung Mutawalli, petani Mataram memang mendapat subsidi pupuk namun jumlahnya terus berkurang. Pada tahun 2019, Mataram mendapat subsidi 1.220 ton dari kebutuhan 2.500 ton, kemudian tahun 2020 turun menjadi 800 ton, dan tahun 2021 turun lagi menjadi 586 ton.

“Tahun ini sudah subsidi turun, harga juga naik dari Rp1.800 per kilogram menjadi Rp2.250 per kilogram, sehingga petani membeli pupuk nonsubsidi seharga Rp6.000 per kilogram,” katanya.

Menurutnya, dampak kenaikan biaya produksi petani apakah akan untung atau rugi akan diketahui setelah petani panen. Tapi, kenaikan biaya produksi kemungkinan bisa berdampak terhadap kenaikan harga gabah.

“Jadi kita lihat dan evaluasi dampak kenaikan harga pupuk setelah petani panen. Tapi, kami tetap berharap produksi padi tahun 2021 bisa optimal yakni di atas 30.000 ton per tahun,” katanya.

Terkait dengan itu, Distan mendorong petani pangan di kota ini beralih menjadi petani hortikultura sehingga biaya produksi lebih murah tapi memiliki nilai jual tinggi.

“Apalagi saat ini dengan kenaikan harga pupuk, biaya produksi tanam padi semakin mahal. Karenanya, program pertanian hortikultura terus kami¬†gencarkan,” katanya.

Dikatakan, produksi hortikultura selain bagus, juga memiliki pangsa pasar bagus dan harga komoditi tinggi. Tetapi, petani hortikultura memang harus ulet dan rajin, tidak seperti petani pangan, setelah dipupuk bisa ditinggal sehingga petani cenderung memilih menjadi petani pangan.

Hal itu terbukti dengan jumlah kelompok petani pangan di Mataram lebih banyak dengan petani hortikultura. Kelompok petani pangan saat ini tercatat sebanyak 78 kelompok, sedangkan hortikultura sekitar 30-40 kelompok.

“Saat ini yang banyak juga kelompok pengolahan hasil baik untuk hasil pertanian maupun peternakan. Jumlahnya sekitar 160 kelompok tersebar di enam kecamatan,” katanya. (Ant)