Pengendalian Inflasi Perlu Stabilkan Belanja Masyarakat

15
Salah seorang pembeli memilih beberapa minyak goreng di retail modern. (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Angka inflasi NTB Juli 2022 sebesar 6,58 persen secara year on year. Angka ini cukup besar sehingga dikhawatirkan sampai akhir tahun akan dua digit inflasi NTB. Agar angka inflasi tetap terkendali, maka pemerintah NTB harus menjaga stabilitas belanja masyarakat.

Pengamatan ekonomi Universitas Mataram, Dr. Firmansyah menyebut pemerintah perlu segera menemukan pola atau rantai yang menjadi penyebab tertinggi terjadinya inflasi dalam daerah. Sebagai bentuk upaya pemerintah dalam menstabilkan belanja masyarakat yakni melalui pemberian program seperti bantuan langsung atau subsidi.

Hal ini bisa membantu masyarakat menengah ke bawah menghadapi dampak dari inflasi tersebut. Artinya mereka masih bisa membeli produk dengan harga terjangkau.

“Secara global negara-negara di dunia sedang menghadapi ancaman dari animal spirit inflasi. Sebuah fenomena di mana pertumbuhan ekonomi rendah atau lesu berbarengan dengan inflasi,” tutur Firmansyah, Kamis (4/8).

Selain pemerintah, pengendalian inflasi ini juga membutuhkan peran masyarakat untuk menjaga belanjanya. Di mana mereka melakukan penundaan pembelanjaan jika memang masih bisa ditunda, sehingga memberi kestabilan harga di pasar. Pasalnya, inflasi ini tumbuh kadang akibat trial error di pasar. Di mana produsen mencoba menaikkan harga agar melihat respon pasar seperti apa.

“Kalau pasar merespon dengan tetap menyerap barang dan jasa yang telah dinaikkan. Maka inflasi juga akan tetap naik,” terangnya.

Inflasi muncul saat pemanasan berlebih dari ekonomi, begitu juga akibat akumulasi dari dampak ekonomi global baik perang Ukraina dan Rusia maupun pandemi Covid-19. Ditambah dengan adanya kenaikan bahan bakar minyak dunia, sehingga menyebabkan munculnya inflasi akibat ekspektasi inflasi dari masyarakat.

“Untuk menghindari adanya ekspektasi inflasi, informasi terkait pasokan barang pokok yang masih tersedia untuk sebar luaskan kepada masyarakat. Misalnya jika ketersediaan benar aman sampai 2-3 bulan ke depan,” jelasnya.

Sebelum, Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, dikhawatirkan hingga akhir tahun nanti angka inflasi NTB bisa mencapai dua digit. Kondisi tersebut dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi dalam daerah. Mengingat baru-baru ini ekonomi daerah pulih didukung dengan beberapa event internasional. Sekarang ini angka inflasi year on year bulan Juli 2022 mencapai 6,58 persen, karena nanti yang dipakai saat akhir tahun adalah bulan Desember.

“Kalau sudah sampai dua digit, inflasi tinggi maka melemahkan ekonomi. Inflasi tinggi maka orang-orang tidak mampu membeli barang-barang, produksi akhirnya tidak jalan karena banyak yang sisa,” ujarnya. (dpi)