Pengolahan Sampah di Kebon Kongok Butuh Optimalisasi

Wakil Gubernur NTB bersama Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR saat memantau TPA Regional Kebon Kongok, Sabtu (30/10) (Inside Lombok/ist)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Optimalisasi fasilitas pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat menjadi salah satu upaya yang harus dilakukan Pemprov NTB. Khususnya untuk mewujudkan misi NTB asri dan lestari melalui program Zero Waste (Minim Sampah).

Untuk itu Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah bersama Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Ir. Diana Kusumatuti memantau langsung kondisi terkini TPA regional tersebut, Sabtu (30/10). Pemantauan ditujukan untuk memastikan pengelolaan TPA Kebon Kongok dapat dengan mudah dilakukan dan terintegrasi dengan berbagai stakeholder yang terkait.

Dalam kesempatan tersebut Diana menyatakan siap membantu proses pengembangan di TPA Kebon Kongok. Khususnya untuk memastikan bahwa pemerintah daerah dapat terintegrasi dengan Kabupaten/Kota.

“Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan off-taker dari produk pengelolaan sampah dan mempersiapkan desain TPA yang komprehensif hingga penanganan residunya,” jelas Diana.

Kondisi terkini TPA Kebon Kongok, daya tampung landfill telah melebihi kapasitas. Sehingga diperlukan perluasan kawasan dengan pembebasan lahan sekitar 4,8 hektare. Dari luas lahan tersebut diperuntukkan untuk landfill baru seluas 2 hektare.

Berbagai jenis teknologi pengelolaan sampah tengah dikembangkan di Kebon Kongok saat ini. Salah Satunya adalah RDF atau Refuge Diesel Fuel, yaitu teknologi yang mengolah sampah menjadi pelet co-firing batu bara.

Penelitian dan pengembangan pengolahan sampah menjadi RDF/SRF dikerjasamakan dengan PT. Indonesia Power PLTU Jeranjang dengan kapasitas desain 5 ton per hari. Saat ini, fasilitas tersebut bisa memproduksi rata-rata 200 kg RDF/SRF per hari.