Pengusaha Tahu-Tempe Meringis Harga Kedelai Naik

16
Salah satu perajin tahu di Kota Mataram saat sedang produksi (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Sejumlah pengusaha tahu-tempe di Kota Mataram mengeluhkan tingginya harga kedelai yang per kilogramnya mencapai Rp14.500 untuk kelas lokal dan Rp13.500 untuk kelas impor. Padahal harga kedelai sebelumnya berkisar Rp11.700 per kilogram. Kenaikan harga ini membuat sejumlah pengusaha tahu-tempe terancam merugi.

Salah seorang pengusaha tempe di wilayah Kekalik, Kota Mataram, Aisyah mengatakan tingginya harga kedelai saat ini mau tidak mau memaksanya mengurangi ukuran tempenya. Lantaran harga kedelai yang biasa dibelinya naik mencapai sekitar Rp1.500 per kilogram.

“Sekarang beli kedelai di Koperasi Rp13 juta lebih per ton. Biasanya tidak segitu walaupun kami dapat subsidi,” ungkap Aisyah, Jumat (25/11).

Untuk tetap berjalan usahanya dan meminimalisir kerugian maka dari itu ukuran produksinya lebih kecil dari biasanya. Bahkan dengan tingginya harga kedelai omzetnya berkurang. Meski demikian, dari konsumen tidak ada persoalan terutama mereka yang biasa membeli. Sementara untuk pasokan kedelai sejauh ini masih tetap ada dan tidak ada kendala.

“Tidak ada masalah. Pasokan kedelai impor selalu tersedia di koperasi tempat biasa beli. Kami berharap kepada pemerintah untuk memberikan solusi terbaik. Agar pengrajin yang membutuhkan bahan baku kedelai dapat menjalankan usahanya dengan normal seperti dulu,” imbuhnya.

Senada dengan pengusaha tahu, Rusdi mengakui harga kedelai terus mengalami kenaikan. Saat ini harga kedelai naik secara bertahap dari harga sebelumnya hanya Rp11.700 per kilogramnya. Bahkan harganya tidak setiap saat pasti, kadang mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

“Kita terpaksa mengurangi produksi dan mengecilkan ukuran. Biasanya dulu kita bisa produksi sekitar 80-100 kilogram kedelai, itu 25-30 papan per hari. Sekarang hanya 15-17 papan dengan 70 kilogram kedelai,” ujarnya.

Diakuinya angka tersebut saat permintaan konsumen sedang tinggi. Sedangkan saat permintaan tahu sedikit pihaknya hanya bisa memproduksi 60 kilogram per hari dengan ukuran yang juga diperkecil. Agar omzet penjualan didapatkan tidak mengalami penurunan terus menerus.

“Kalau kita naikin nanti pelanggannya kabur, karena yang buat tahu kan bukan saya saja tapi banyak dilingkungan ini. Takutnya pada kabur ke yang lain,” katanya. (dpi)