Peningkatan SDM Pariwisata di NTB Jadi Perhatian Kemenparekraf

Biannual Tourism Forum yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf di salah satu hotel di Senggigi pada Rabu (23/09). (Inside Lombok/istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan perhatian terhadap pengembangan SDM pariwisata di NTB. Termasuk penguatan kapasitas dan kualitas dari UMKM pendukung pariwisata.

“Jangan cuma (pembangunan) fisik dan event saja yang bagus, tapi SDM harus kita siapkan,” kata Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya, Rabu (23/09).

Wisnu mengatakan, kementerian telah menyiapkan uji kompetensi untuk SDM pariwisata di NTB di Oktober atau November. Kesempatan ini diberikan kepada industri pariwisata, yang akan menentukan mana sub sektor yang nantinya didahulukan untuk disertifikasi.

“Orang-orang industri ini kan tahu kebutuhan di lapangan itu seperti apa,” ujarnya.

Program sertifikasi SDM pariwisata akan dilakukan Kemenparekraf untuk 2000 orang, yang dibagi untuk tiga lokasi. Yakni Danau Toba, Sumatera Utara; Borobudur, Prambanan, dan Yogyakarta; serta Lombok.

“Kuotanya tinggal dibagi tiga, jadi bisa sekitar 600 orang untuk di Lombok,” sebutnya.

Menurut Wisnu, yang saat ini paling mendesak untuk disertifikasi terkait dengan hospitality. Untuk SDM di hotel dan restoran dinilai Wisnu sudah cukup siap. Yang perlu digenjot lagi adalah pemandu wisata.

“Kalau orang datang, pasti menginap, makan dan berjalan-jalan. Kemudian ada meeting juga. Jadi yang berkaitan dengan itu mendesak disertifikasi,” tuturnya.

Sasaran utama sertifikasi berada di KEK Mandalika. Tapi, Kemenparekraf juga memastikan daerah penyangga lain akan mendapat program serupa. “Orang yang datang kan bukan diam di Mandalika saja. Mereka pasti akan ke destinasi lain juga,” tandasnya.

Asisten Deputi Pengembangan SDM Parekraf Kemenko Maritim dan Investasi Hermin Esti Setyowati mengatakan, ada empat persoalan yang perlu ditingkatkan terkait SDM pariwisata di kawasan Mandalika.

Seperti, adanya kesenjangan keterampilan dan pengetahuan. Khususnya dari sisi hospitality, bahasa, hingga digitalisasi dan sistem manajemen. Tingkat keterampilan juga masih rendah, diakibatkan kurangnya sekolah maupun lembaga untuk melatih keterampilan secara komprehensif.