Pergantian Tahun Baru Islam, Warga Desa Pohgading Gelar Ritual Mangan Bakek

Saat orang tua dan anak-anak santap hidangan di pinggir jalan, Selasa (10/08/2021). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Berbagai cara dilakukan umat Islam dalam menyambut pergantian tahun hijriah. Seperti yang dilakukan warga Dusun Sukamulia, Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim) yakni dengan menggelar ritual “mangan bakek”.

“Mangan bakek” (bake’: red) ialah dua kata yang berasal dari bahasa sasak yang berarti “Makan Jin” atau cara makan makhluk halus. Istilah tersebut digunakan lantaran ritual makan-makan itu dilaksanakan ketika menjelang magrib. Di mana menurut kepercayaan orang Lombok di waktu menjelang magrib tersebut merupakan waktu makhluk halus keluar untuk mencari makan.

“Ritual ini kita adakan setiap akan memasuki pergantian tahun hijriah. Nantinya sisa dari makan bersama itu akan kita biarkan dan menjadi makanan makhluk lainnya,” ucap salah satu tokoh pemuda, Asri kepada Inside Lombok, Selasa (10/08/2021).

Ritual Mangan Bakek itu sendiri dilakukan dengan cara menyiapkan nasi, koin, dan telur rebus yang disajikan di atas tampah. Para masyarakat beserta anak-anak kemudian menjajar makanan tersebut di pinggir jalan, serta memanjatkan doa dan kemudian makan bersama.

Sisa makanan yang dibiarkan di pinggir jalan untuk para makhluk lainnya seperti binatang dan juga makhluk halus atau jin. Asri mengungkapkan bahwa hal itu sebagai wujud kehidupan berdampingan antara manusia dengan makhluk lainnya.

“Tidak hanya itu, ritual ini juga kita lakukan bertujuan untuk tolak bala dan memohon perlindungan kepada yang maha kuasa agar pada tahun baru Islam ini lebih baik dari tahun lalu,” jelasnya.

Ritual atau kegiatan ini sudah dilakukan warga setempat secara turun temurun. Ritual ini sebagai bentuk menyemarakkan tahun baru Islam dan memohon perlindungan, serta dengan ritual ini menjadi wadah untuk berbagi dengan anak yatim dan makhluk lainnya.