Permintaan Banyak, Petani Madu Trigona di Sekotong Butuh Dukungan Alat

Salah seorang petani madu trigona di Sekotong, saat menukkan sarang madu. (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) -Di tengah ramainya pesanan madu di masa pandemi ini, petani Madu Sekotong (Maskot) justru membutuhkan perhatian. Terutama dukungan pemerintah untuk mengatasi keterbatasan peralatan yang dimiliki petani madu tersebut.

“Kami butuh intervensi pemerintah untuk bantuan alat penurun kadar air pada madu,” ucap Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maskot, Zulhadi saat ditemui di dusun Labuan Poh Timur, Desa Batu Putih, Sekotong.

Menurutnya, rata-rata petani madu yang ada di kawasan itu harus menyimpan terlebih dahulu madu yang telah dipanen sebelum dijual. Mereka pun sering kali harus menyimpannya dalam waktu yang lama. Sehingga membutuhkan peralatan untuk bisa mengurangi kadar air dalam madu.

“Padahal usaha madu ini bisa dikatakan sangat menjanjikan kedepannya, apalagi di musim pademi ini,” ungkap Zulhadi. Permintaan untuk madu Sekotong tidak mengalami penurunan, lantaran manfaatnya yang dianggap cukup baik untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, pesanan dalam lingkup antar daerah tetap datang. Antara lain dari Bali, Jawa, Batam, hingga Jakarta. Bahkan pesanan dari luar negeri seperti Prancis, Jerman dan Singapura juga tetap diterima para petani.

Untuk itu, pihaknya meminta pemerintah kedepannya lebih mengintensifkan pengontrolan pengiriman penjualan koloni lebah madu trigona ke luar daerah. Jika pengiriman tidak terkendali, justru bisa berdampak pada punahnya koloni lebah jenis ini.

“Apalagi kan kita juga punya koloni lebah endemik. Itu sangat perlu dijaga dan dilestarikan,” pinta Zulhadi. Pihaknya berharap agar pemerintah membuat semacam regulasi untuk mengontrol pengiriman koloni ke luar daerah.

Harapan tersebut disampaikan, lantaran selama ini sudah banyak koloni lebah trigona yang dikirim ke luar daerah. Jangan sampai di masa-masa ramainya pesanan madu trigona saat ini, para petani justru kesulitan panen. Entah karena keterbatasan peralatan, maupun semakin berkurangnya koloni lebah.

“Karena madu ini kan masa panennya sekitar empat bulan. Kami berupaya bisa memenuhi kebutuhan pasar. Terlebih saat ini permintaannya meningkat,” ungkapnya.

DPRD Lobar Dapil Sekotong-Lembar, Abubakar Abdullah pun turut bersuara. Pihaknya mengaku sangat mendukung pengembangan usaha madu trigona di Lobar, terlebih di Sekotong.

Komoditas tersebut dinilai Abu sangat baik untuk pengembangan usaha ekonomi daerah yang berkelanjutan. Apalagi di tengah keterpurukan ekonomi di masa pandemi ini.

“Karena lebah-lebah madu ini kan mereka memakan saripati tanaman dan pohon yang ada di hutan,” ujarnya. Dengan begitu, diharapkan aktivitas panen oleh para petani madu berdampak juga bagi kesadaran masyarakat untuk lebih menjaga dan melindungi hutan. Mengingat hutan menjadi sumber makanan bagi lebah madu yang dibudidayakan tersebut.