Peserta SKB CPNS Lobar Tidak Wajib Bawa Hasil Rapid Test

Peserta tes SKB CPNS Lobar, di UPT BKN Mataram, Selasa (07/09/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Pada tes SKB CPNS Lobar yang dilaksanakan di UPT BKN Mataram tahun ini, prosesnya harus disesuaikan dengan protokol pencegahan covid-19. Namun peserta tidak diwajibkan membawa hasil rapid test.

Lalu Suastariyadi selaku Kabid Pengadaan, Penempatan, dan Fasilitasi Purna Tugas (P2FPT) BKDPSDM Lobar mengungkapkan bahwa, pada hari pertama Tes SKB CPN Lobar diselenggarakan, pada Minggu (06/09/2020) kemarin, ada satu orang peserta yang awalnya tidak mengakui bahwa dirinya reaktif. Akan tetapi yang bersangkutan mengakui dirinya reaktif setelah selesai mengikuti tes.

“Hal itu kemarin menyebabkan yang lainnya sempat terganggu” kata Kabid P2FPT BKDPSDM Lobar ini.

Namun di hari ke-2, pada Senin (07/09/2020) ini, disebutkan Suastariyadi bahwa, sejauh ini belum ada peserta yang ditemukan reaktif atau pun positif covid-19.

“Persyaratan rapid itu tidak kita adakan, tetapi akan tetap kita tanya terkait riwayat kesehatan peserta, apakah pernah tes rapid atau swab dan bagaimana hasilnya” kata Suastariyadi.

Guna mengantisipasi permasalahan seperti yang terjadi pada hari pertama, panitia SKB CPNS Lobar, mengutamakan rekomendasi dari tim medis untuk mengambil sikap terkait permasalahan kesehatan peserta.

Termasuk juga dalam hal ini, peserta yang sedang sakit flu atau batuk, akan diberikan tempat ujian di ruangan yang berbeda dengan peserta lainnya. Tergantung dari rekomendasi tim medis yang ada di lokasi.

Untuk tim pemeriksaan kesehatan bagi para peserta tes SKB ini terdiri dari tim medis, kemudian tim BPBD. Jumlah tim yang akan melakukan pemeriksaan ini disesuaikan dengan kapasitas tempat, sehingga penugasannya dibagi dengan sistem shift.

“Tadi di sesi pertama ada yang batuk pilek, rekomendasi dari tim medis bahwa yang bersangkutan boleh tetap ujian tetapi di ruangan tersendiri” imbuhnya.

Begitupun dengan peserta dengan suhu tubuh 37° celcius keatas, kata Suastariyadi Itu harus dipisahkan terlebih dahulu untuk diberikan waktu istirahat di ruangan khusus. Apabila setelah istirahat suhu tubuhnya kembali normal, maka peserta tersebut diperbolehkan ujian di lokasi yang biasa, bersama dengan peserta lainnya.

Apabila ada peserta yang pernah menjalani tes rapid dan dinyatakan reaktif, Suastariyadi Menjelaskan bahwa peserta tersebut tidak akan serta merta langsung dikatakan gugur. Tetapi keputusannya akan disesuaikan dengan rekomendasi dari tim medis.

“Kalau ada yang reaktif, boleh atau tidaknya dia mengikuti tes, itu tergantung rekomendasi dari tim medis. Kita panitia tinggal mengikuti rekomendasi itu” tegasnya.

Karena Suastariyadi melanjutkan bahwa, mengikuti tes SKB CPNS ini juga merupakan hak asasi peserta yang sudah mendaftar dan lolos hingga tahap ini. Tetapi hanya ruangannya saja yang akan dibedakan dengan peserta yang lain.

“Untuk Lombok Barat, baru ada 1 orang yang menggunakan ruangan itu” ungkapnya.

Selama berada di lokasi tes, para peserta diharuskan untuk tetap menggunakan masker dan face shield. Kemudian menggunakan sarung tangan juga sebelum memasuki ruang ujian.

Pada tes SKB CPNS Lobar tahun ini total pesertanya ada 407 orang. Dengan 388 orang diantaranya memilih lokasi tes di UPT BKN Mataram ini.

Dimana satu diantara peserta tersebut ada yang sudah meninggal tetapi tetap dimasukkan dalam daftar absen. Namun dalam prosesnya, peserta tersebut akan dianggap tidak hadir.

“Peserta yang meninggal ini awalnya kita ketahui dari media sosial, kemudian ada petugas yang kita minta untuk mengecek informasi itu dan ternyata benar tapi yang bersangkutan tetap harus kita masukkan data daftar” ungkap Suastariyadi.

Kemudian, dirinya menyambungkan, 18 orang peserta lainnya mengambil lokasi tes di luar UPT BKN Mataram.

“Ada di Medan, Yogyakarta, Ternate, Surabaya dan Denpasar” imbuhnya.

Dalam proses tes SKB ini, apabila ada peserta yang terlambat atau dinyatakan tidak hadir hingga waktu ujian tiba, kata Suastariyadi, maka itu kebijakan dari tim BKN untuk memutuskan.

“Kalau memang peserta yang lain sudah masuk di ruang ujian, maka peserta yang terlambat ini sudah tidak boleh masuk dan bisa dikatakan gugur” terangnya.

Hingga hari ke-2 tes SKB ini, Suastariyadi Mengakui tidak ada kendala yang berarti.

“Hanya hari pertama saja, karena ini kan tempatnya sempit dan yang tes kemarin kan campuran jadi banyak sekali orang disini dan sepertinya hari terakhir nanti juga tes nya akan campuran” tutupnya.