Petani: Saya Butuh Pupuk, Bukan Vaksin Covid-19

Seorang petani di Praya sedang bekerja merawat tanaman pertaniannya, Selasa (12/1/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah akan memulai vaksinasi Covid-19 pada 15 Januari 2021 ini. Pro dan kontra vaksin masih terjadi di tengah masyarakat.

Tahap pertama vaksinasi akan menyasar Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan tenaga kesehatan (nakes). Setelah itu vaksin akan menyasar masyarakat luas.

Berbagai tanggapan dari masyarakat pun bermunculan terkait dengan vaksinasi ini. Sejumlah warga bahkan mengatakan kalau mereka saat ini lebih butuh pupuk untuk tanaman pertanian dibandingkan dengan vaksin Covid-19.

“Saya lebih butuh pupuk. Karena sekarang musim tanam padi. Dan saya sebagai petani merasakan kalau tidak ada pupuk sampai akhir Januari ini bisa buat padi jadi merah dan otomatis gagal panen,”kata salah satu warga yang juga seorang petani di Loteng, Riki, Selasa (12/1/2021) di Praya.

Dikatakan Riki, pupuk saat ini sedang langka dan harganya juga cukup mahal. Tanaman pertanian yang seharusnya sudah dipupuk dua kali sekarang ini baru dipupuk sekali. Dan itu membuat pertumbuhan tanaman pertaniannya menjadi tidak optimal.

“Kami sangat berharap Pemda khususnya dinas pertanian untuk lebih melihat petani daripada mementingkan kepentingannya sendiri. Karena diduga pupuk ini dipermainkan oleh oknum tertentu yang tidak melihat petani,”ujarnya.

“Dan kalau bisa anggaran untuk vaksin itu sebaiknya diarahkan saja untuk pengadaan pupuk subsidi bagi petani,”katanya lagi.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Tengah, Lalu Idham Khalid meminta masyarakat untuk tidak beranggapan untuk lebih memilih pupuk dibandingkan vaksin. Karena dua hal tersebut sama-sama penting bagi masyarakat.

“Tidak boleh kita beda pilihan seperti itu. Pupuk penting, vaksin penting,”ujarnya.

Dia menerangkan, vaksinasi ini adalah program pemerintah yang harus dilaksanakan untuk memutus mata rantai Covid-19.

Meski demikian, anggapan masyarakat terhadap pentingnya pupuk tersebut dianggap wajar. Di sisi lain, sosialisasi perlu ditingkatkan untuk mengubah stigma tersebut.

Dikes melalui puskesmas akan memberikan edukasi kepada masyarakat kalau vaksin ini sangat penting. Karena Covid-19 masih ada.

“Sementara masyarakat ini (menganggap) Covid-19 sudah tidak ada. Sehingga berlaku abai terhadap protokol kesehatan,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah, Lalu Iskandar dalam kesempatan yang berbeda mengatakan, kelangkaan pupuk ini bukan hanya terjadi di Lombok Tengah tapi juga di daerah lain.

“Ini terjadi secara nasional,”imbuhnya.

Alokasi pupuk tahun 2021 ini juga tidak sesuai dengan Rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) yang telah diusulkan.
Contohnya adalah pupuk jenis urea. Tahun 2020 lalu alokasi yang didapat sebanyak 26 ribu ton sementara tahun ini hanya 20 ribu ton.

“Begitu pula dengan alokasi pupuk-pupuk yang lain berkurang kita dapat,”katanya.

Harga pupuk bersubsidi juga naik tahun ini. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No 49 Tahun 2020 tertanggal 30 Desember 2020, yang mengatur tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi.

Kenaikan harga berlaku untuk keempat jenis pupuk yang selama ini mendapat subsidi. Untuk pupuk jenis urea, dari HET semula Rp 1.800 per kilogram naik menjadi Rp 2.250 atau Rp 112.500 per karung.

Sedangkan pupuk ZA, dari Rp 1.400 per kilogram kini menjadi Rp 1.700 atau Rp 85 ribu per karung. Pupuk SP-36 naik Rp 400 per kg, dari Rp 2.000 menjadi 2.400 per kg dengan Rp 120 ribu per karungnya.

Demikian juga pupuk jenis petroganik, dari Rp 500 menjadi Rp 800 per kilogram dengan harga Rp 32 ribu per karung.

“Hanya pupuk NPK Phonska yang tidak mengalami kenaikan atau tetap Rp 2.300 per kg atau Rp 115 ribu per karung,”katanya.