PPA Lotim Buat Program Pusat Pembelajaran Keluarga Tekan Pernikahan Dini

Kepala UPT PPA Lotim, Nurahidayati saat ditemui di ruangannya beberapa waktu lalu, di Selong, Kamis (28/08/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Melihat maraknya kasus pernikahan dini yang terjadi saat ini, Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) membuat program Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para orang tua agar tidak membiarkan anaknya menikah dini.

Kepala UPT PPA Lotim, Nurhidayati mengatakan, banyaknya faktor yang menyebabkan pernikahan dini ini terjadi. Salah satunya yaitu kurangnya edukasi pemahaman orangtua terkait dampak pernikahan dini. Sehingga, para orang tua merelakan anaknya untuk menikah dini.

“Pusat Pembelajaran Keluarga ini diperuntukkan membina keluarga yang baik dalam melindungi hak anak,” ucapnya.

Program tersebut merupakan pembelajaran yang harus diberikan kepada para orangtua agar nantinya bisa lebih memahami bagaimana akibat perkawinan usia anak. Sehingga akan lebih menjaga anak dari dampak pernikahan dini, yaitu kekerasan akibat pernikahan usia anak.

“Selama ini masih kita melakukan sosialisasi dampak pernikahan dini di tingkat anak sekolah. Selain program Puspaga, sebenarnya orang tua juga perlu untuk mendapatkan edukasi melalui forum informal,” tuturnya.

Selain itu, kasus pernikahan dini juga terjadi yang diakibatkan oleh adat yang sejak lama berkembang di masyarakat. Seperti halnya kawin culik yang merupakan adat suku sasak. Anaknya sudah dilarikan untuk diajak kawin, sehingga para orang tua malu untuk membatalkan karena akan berakibat adanya isu yang tidak baik berkembang di masyarakat.

“Oang tua merasa malu kalau anaknya sudah dilarikan dan jika dibatalkan kawin akan lebih berakibat pada isu sosial yang tidak senonoh. Akhirnya harus rela menikahkan anaknya pada usia dini,” jelasnya.

Masalah ekonomi juga menjadi sorotan dalam kasus ini. Ekonomi masyarakat yang lemah membuat orang tua merelakan anaknya untuk menikah, agar tanggung jawab yang diembannya bisa berkurang. Terlebih lagi jika para orang tua tidak ada biaya untuk menyekolahkan anaknya