Program PKPR ‘Yes I Do’ di Lobar Bantu Tekan Angka Pernikahan Dini

154
Muhammad Rey Dwi Pangestu, koordinator Yes I Do untuk wilayah Lombok Barat, bersama dengan Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid saat acara penutupan program PKPR Yes I Do Lobar. Di hotel Aruna Senggigi, Selasa kemarin (29/09/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Pogram Pendidikan Kesehatan Reproduksi Komperhensif dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang telah dijalankan ‘Yes I Do’ bersama dengan OPD terkait di lingkup pemerintah kabupaten Lombok Barat membuahkan hasil. Terutama dalam upaya untuk menekan angka pernikahan dini, serta mencegah kehamilan remaja. Di mana dalam 5 tahun terkahir ini, program tersebut dikembangkan di 4 sekolah, yakni SMPN 1 Lembar, SMPN 2 Lembar, SMPN 1 Kediri dan SMP Ikhya Ulumudin.

Pemilihan 4 lokasi pengembangan tersebut, didasarkan karena pada 2016 silam, 4 wilayah tersebut yang angka pernikahan dininya paling tinggi.

“Kita awalnya melakukan penelitian, ternyata di Indonesia angka pernikahan dini yang tinggi itu ada di NTB juga. Kemudian di NTB kita kerucutkan lagi dan ternyata Lombok Barat perkawinan usia anak yang paling tinggi pada tahun 2016 lalu. Dan dari ratusan desa, 4 desa ini lah yang ternyata paling tinggi angka pernikahan dini nya” ungkap Muhammad Rey Dwi Pangestu, selaku Koordinator Yes I Do wilayah Lombok Barat, kemarin (29/09/2020), di Hotel Aruna Senggigi.

Program tersebut salah satunya diaplikasikan dalam dunia pendidikan, melalui pengembangan modul Setara (Semangat Masa Remaja). Dimana sekolah yang telah dipilih dalam pengaplikasian modul Setara tersebut akan memberikan pemahaman dan pembelajaran mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Yang diprogramkan untuk siswa SMP kelas VII dan VIII.

“Awalnya banyak yang berpikir bahwa itu untuk mengajarkan untuk berhubungan seksual. Padahal sebenarnya itu untuk mengajarkan para siswa yang masuk usia remaja ini untuk mengenali diri sendiri, tubuh sendiri, serta alat reproduksi” katanya.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini, diakui Rey bahwa modul Setara yang dikembangkan di sekolah-sekolah ini, setelah melakukan diskusi oleh OPD terkait, beserta guru dan kepala sekolah. Dan saat ini sudah 3 kali direvisi, yang tujuannya untuk menyesuaikan bahasa yang digunakan supaya lebih ramah remaja.

Diakui Rey, bahwa pada awalnya banyak penolakan yang diterima ketika modul Setara tersebut baru diterapkan di sekolah. Terlebih lagi masih banyaknya masyarakat yang menganggap tabu mengenai pendidikan Kespro (Kesehatan Reproduksi) dan pembelajaran mengenai seksualitas.

“Ilmu-ilmunya itu dari konsultan-konsultan yang menulis dari orang kesehatan dan pendidikan. Bagaimana caranya supaya menggabungkan dua unsur (pendidikan dan kesehatan) bisa diajarkan di sekolah” bebernya.

Sehingga Yes I Do pun gencar melakukan diskusi komunitas yang ada di desa-desa untuk memberi pemahaman mengenai Kespro ini, demi mencegah angka pernikahan dini.

“Tahun ini kita mengadakan pertemuan dengan mengundang 60-70 orang tua yang anaknya sekolah di SMP tempat pengembangan modul tersebut. Untuk menjelaskan kenapa anaknya mendapat modul setara dan pentingnya apa. Sehingga mereka tahu bahwa perkawinan anak itu merupakan kejahatan dan berbahaya, jadi mereka bisa lebih peduli” terangnya.

Selain memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, Yes I Do juga mengembangkan program tutor sebaya yang ada di lingkup yang sama. Dengan tujuan untuk dapat membuat anak-anak yang mengalami permasalahan baik itu mengenai Kespro, tetapi masih takut untuk terbuka kepada guru dan orang tua.

“Kita menyediakan tutor sebaya sebagai suatu sumber informasi yang terkait dengan Kespro” sebut Rey.

Karena banyak cerita yang diterima tutor sebaya itu sendiri ketika menemukan kasus teman sebayanya di sekolah mengalami kekerasan seksual atau pun mengalami kendala ketika sedang menstruasi.

Untuk saat ini, diakui Rey, pemilihan tutor sebaya ini didasarkan pada siswa yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan ekstra kulikuler di sekolahnya. Di mana di setiap sekolah akan dipilih 10 siswa per tahun ajarannya. Kemudian mereka yang akan diberi pelatihan untuk dapat memberi pemahaman kepada teman sebayanya di sekolah.

“Tutor sebaya ini bukan mereka yang akan memberikan solusi, tetapi mereka akan memberikan pemahaman terkait apa yang telah dipelajari dalam modul setara dan materi yang diterima ketika mengikuti pelatihan dengan Yes I Do” imbuh ketua koordinator Yes I Do untuk wilayah Lombok Barat ini

Namun ketika tutor sebaya ini menemukan kasus yang ternyata sudah terlalu jauh dari apa yang dipahami oleh tutor sebaya tersebut. Maka disini fungsinya kerjasama yang dilakukan Yes I Do dengan dinas kesehatan. Sehingga yang bersangkutan bisa dirujuk kesana untuk memperoleh pemeriksaan atau diberikan layanan konseling.

“Berdasarkan hasil penelitian, bahwa tidak hanya di Indonesia tapi di dunia, ketika anak menerima pendidikan Kespro malah mereka tidak mau melakukan hubungan seksual yang diluar norma. Karena mereka jadi tahu bahanya dan risikonya apa” bebernya.

Sehingga Kespro ini juga tujuannya untuk mencegah pelecehan dan kekerasan seksual, terutama juga pada anak-anak.

Tanggapan dari salah satu kepala sekolah yang sekolahnya menjadi lokasi dalam pengembangan program modul Setara dan tutor sebaya tersebut. Kepala sekolah SMPN 1 Kediri, Rofikah, mengakui bahwa penerapan moduk tersebut masuk dalam pelajaran BP/BK.

“Biasanya pembinaannya itu kan di luar jam belajar, sehingga dengan adanya modul setara ini kita includ kan di pelajaran BK” sebutnya.

Sehingga para siswa akan menerima materi tersebut melalui guru BK yang memang ditunjuk sekolah sebagai pendidik setara juga.

“Walaupun dalam situasi pandemi seperti ini, sekolah kami tetap menjadwalkan untuk memberikan materi modul Setara ini pada saat pembelajaran Luring (luar jaringan) bagi para siswa baru kelas VII. Agar program ini tetap jalan dan tidak terputus” aku Rofikah.

Dirinya menyebut, banyak perubahan yang terjadi semenjak di sekolahnya telah diterapkan modul Setara tersebut. Terutama perubahan perilaku para siswi yang menjadi lebih paham untuk menjaga kebersihan ketika sedang menstruasi. Sehingga mereka dinilai menjadi lebih memahami kesehatan organ reproduksi.

Kepala sekolah SMPN 1 Kediri ini juga mengakui bahwa pada awal penerapan modul Setara tersebut banyak tantangannya. Karena masyarakat masih tabu untuk membicarakan hal-hal terkait dengan Kespro dan juga pendidikan seksualitas.

“Kita siasati dengan sering konsultasi dan memberi sosialisasi kepada wali murid untuk memberi pemahaman. Bahwa anak-anak yang dididik disini salah satu materi tambahannya itu adalah dengan mempelajari modul Setara ini dan bagaimana manfaatnya, terutama untuk anak perempuan itu banyak sekali” terangnya.

Sehingga secara bertahap, hingga saat ini para wali murid pun sudah mulai terbuka dan menerima. Bahkan kata Rofikah, para orang tua murid tersebut pun bersyukur karena anaknya memperoleh pendidikan modul Setara tersebut.

“Walaupun program Yes I Do di Lombok Barat sudah berakhir, tapi kami berharap program ini nanti akan tetap berlanjut di sekolah. Buktinya dengan adanya Perda yang menyangkut program ini, berarti kan sudah diaku oleh daerah. Dan kita legal untuk menerapkan itu di sekolah dan anggarannya pun nanti mungkin bisa kita anggarkan lewat dana bos” harapnya Kepala Sekolah SMPN 1 Kediri ini.

Rofikah pun mengakui bahwa pada bulan Mei lalu, ada salah seorang siswi sekolahnya yang pernah menjadi salah satu korban penjualan anak dan dipekerjakan ke luar daerah. Dimana anak tersebut merupakan anak dari keluarga yang broken home.

“Sempat anak itu dibawa ke luar daerah sampe ke Jakarta, hingga akhirnya kami urus dengan bekerjasama dengan rutgers dan aliansi Yes I Do ini, bersama dengan KPAD Kediri. Setelah kami urus dan kami laporkan akhirnya anak itu bisa kita kembalikan” tuturnya.

Sehingga setelah melalui masa karantina, anak yang bersangkutan pun dapat kembali melanjutkan pendidikan hingga lulus SMP. Karena pada saat itu, yang bersangkutan duduk di kelas IX.

“Bahkan kita sewakan tukang ojek untuk tetap mengantar jemput dia ke sekolah. Akhirnya anak itu sekarang sudah lulus” akunya.

Hal tersebut, diakui Rofikah sebagai salah satu manfaat yang diperoleh berkat adanyanya kerjasama dengan Rutgers (Yes I Do), serta pihak desa. Karena melalui program yang dijalankan oleh Yes I Do tersebut juga telah membentuk KPAD yang ada di desa.

Dengan adanya program PKPR yang diprogramkan oleh Yes I Do tersebut, diakui juga oleh Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid, bahwa hal tersebut yang mendorong Pemda untuk menerbitkan berbagai peraturan mengenai pendewasaan usia perkawinan di daerah Lombok Barat.

“Karena program ini lah yang telah mendorong pemerintah menerbitkan peraturan bupati (Perbup), kalau saya tidak salah ingat itu ada 2-3 Perbup. Dan berkali- kali saya sudah buat surat edaran dan alhamdulillah 2019 kita sudah memiliki Perda tentang pendewasaan usia perkawinan” katanya, saat memberi sambutan dalam acara penutupan program Yes I Do, kemarin (29/09/2020).

Dimana Perda tersebut diakui Fauzan, telah mengantarkan Lombok Barat menjadi daerah satu-satunya di NTB yang memiliki peraturan mengenai pendewasaan usia perkawinan tersebut. Dan di Indonesia hanya ada 2 kabupaten yang memiliki Perda yang serupa.