Puluhan Mahasiswi di Mataram Jadi Korban Pencabulan Dosen Gadungan

1580
Ilustrasi pencabulan (image source: Pexels)

Mataram (Inside Lombok) – Seorang pria paruh baya di Mataram diduga berpura-pura menjadi dosen dan mencabuli puluhan mahasiswi dari beberapa universitas di Kota Mataram. Kasus tersebut saat ini telah dilaporkan ke Polda NTB.

Direktur BKBH Fakultas Hukum Unram, Joko Jumadi menerangkan beberapa korban pencabulan dari oknum dosen gadungan tersebut telah mendatangi pihaknya untuk meminta pendampingan hukum. “Korban datang ke Fakultas Hukum (Unram) dari beberapa kampus di Kota Mataram,” ujarnya, Selasa (28/6).

Diterangkan, saat ini pihaknya tengah mendampingi 10 orang korban dari oknum tersebut. “Ini tahapan (kasusnya) berbeda-beda, ada yang (mengalami) pencabulan tapi sebagian memang sampai persetubuhan,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, Joko menerangkan para korban sebelumnya tidak mengetahui ada banyak korban lainnya dari oknum tersebut. “Karena korban-korban ini sebenarnya masih ada hubungan pertemanan. Setelah mereka tahu mereka semua jadi korban, mereka berkumpul dan akhirnya melapor,” ujar Joko.

Kasus itu pun telah dilaporkan pihaknya langsung ke Kapolda NTB. Saat ini, para korban diberi pendampingan, termasuk untuk membantu pemulihan psikologis.

Di sisi lain, pihaknya menduga ada lebih banyak korban dari oknum dosen gadungan tersebut. Mengingat aksi cabul terduga pelaku disinyalir telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. “Kalau perkiraan kita, ada 50-60 orang korban, karena ada kasus dari empat tahun lalu pelakunya ternyata sama. Bahkan ada kakak dan bibi korban yang saat ini melapor juga ternyata menjadi korban oknum yang sama. Hanya saja mereka tidak saling mengetahui kalau sudah menjadi korban,” ungkapnya.

Modus yang dilakukan terduga sendiri antara lain menjanjikan masuk perguruan tinggi negeri, pengerjaan skripsi, hingga terapi. Diterangkan, pada dasarnya oknum tersebut bukanlah dosen, melainkan teman dari dosen di beberapa kampus di Kota Mataram.

Kasus ini diharapkan menjadi atensi kepolisian, khususnya untuk mempercepat proses hukum yang berjalan agar tidak ada lagi korban dari pelaku. “Kita berharap meskipun ini masih proses, ada percepatan dengan proses penanganan,” jelasnya.
Sebagai barang bukti, Joko menyebut pihaknya telah menyerahkan cairan minuman yang diduga telah dicampur obat-obatan yang diberikan ke korban. Selain itu ada banyak saksi yang siap memberikan keterangan untuk kasus tersebut, termasuk saksi ahli.

“Untuk bukti chat (pesan) memang tidak ada, karena rapi sekali (permainan oknum dosen gadungan) ini. Dia tidak ada pembicaraan lewat chat dengan para korban,” tandas Joko. (r)