Punya Kualitas Ekspor, Manggis Lobar Diklaim Daerah Lain

Buah manggis hasil petani di Sesaot. (Inside Lombok /Istimewa ).

Lombok Barat (Inside Lombok) -Kualitas manggis hasil panen para petani dari kecamatan Narmada-Lingsar tidak diragukan lagi untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Sayangnya, hasil produksi tersebut justru tercatat sebagai komoditas ekspor dari daerah lain.

Anggota DRPD Lobar, H. Sardian menilai kondisi tersebut merugikan petani dan daerah. Pasalnya, manggis petani Lobar justru dibeli pengepul dengan harga miring, kemudian dijual ke luar daerah dengan harga tinggi.

“Manggis kita ini sudah menjadi komoditas ekspor sejak lama, tapi faktanya yang terjadi selama ini manggis kita diklaim daerah lain seperti Bali. Lalu mereka yang mengekspornya ke luar negeri,” ungkap politisi PDIP tersebut, Kamis (14/10).

Untuk itu pihaknya meminta atensi Pemda atas hal tersebut. “Lobar yang punya manggis tapi daerah lain yang untung. Karena mereka membrandingnya seolah itu adalah produk mereka sendiri,” ketusnya.

Ditegaskan, OPD terkait perlu melihat peluang yang ada dari potensi ekspor manggis tersebut. Baik dengan memberi pembinaan maupun menghadirkan kebijakan yang dapat memihak para petani lokal.

“Pemda seharusnya mampu membranding manggis lokal Lobar ini. Keuntungannya bisa dirasakan langsung oleh para petani dan untuk Lombok Barat sendiri,” tegas Sardian. Terlebih saat ini Lobar disebutnya sudah memiliki sarana dan prasarana pendukung untuk ekspor.

Dengan begitu ekspor bisa dilakukan baik melalui udara maupun laut. Mengingat Lobar sendiri sudah memiliki pelabuhan peti kemas dan memfasilitasi banyak rute yang bisa memaksimalkan ekspor. “Seharusnya Lobar jeli melihat peluang ini,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, manggis Lobar telah diakui masuk menjadi kualitas unggul di Indonesia. Ironisnya, saat musim manggis seperti saat ini justru banyak kontainer dari luar pulau yang datang ke Narmada dan Lingsar untuk mengambil manggis.

“Setiap hari itu bisa minimal 10-11 kontainer yang datang mengambil manggis dengan berat 5-7 ton, manggis-manggis itu lalu dikirim ke daerah lain,” tuturnya. Sardian khawatir, bila Pemda Lobar tidak memanfaatkan peluang ini dengan baik, maka daerah lain yang akan memanfaatkan peluang tersebut.

Sekda Lobar, H. Baehaqi juga menyayangkan kondisi tersebut. Diakuinya manggis hasil produksi petani Lobar sangat berkualitas. Namun yang mendapat nama atas branding komoditas tersebut justru daerah lain.

“Ini yang sekarang sedang kita upayakan” ujarnya singkat.