Ritual Mandik Pusake di Lobar, Memandikan Keris dari Seluruh Penjuru Lombok

148
Ritual Mandik Pusake di Gedeng Gerung Peririgi, Gerung. (Inside Lombok/Ist)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Bertepatan pada bulan Muharram (bulan pertama pada tahun Hijriah), masyarakat Lombok khususnya di Lombok Barat (Lobar) menggelar Mandik Pusake. Dalam ritual adat ini, para pemilik keris dari seluruh penjuru Pulau Lombok berkumpul untuk memandikan keris-keris mereka.

Mandik Pusake sendiri merupakan ritual tahunan yang tetap dijaga hingga kini. Biasa diadakan tepat pada tanggal 1 Muharram atau 1 Suro pada penanggalan Jawa.

H. L. Sajim Sastrawan atau yang kerap disapa Miq Sajim, salah seorang tokoh budayawan Lombok Barat menuturkan, ritual ini sebagai wujud kecintaan terhadap kebudayaan yang telah diturunkan oleh orang terdahulu. Serta untuk memastikan nilai-nilai sosial budaya masih melekat pada diri masyarakat.

“Ritual ini sesungguhnya dimaksudkan untuk memelihara nyawa, memelihara jiwa, dalam konteks agama islam itu adalah silaturahmi,” ucap Miq Sajim pada malam ritual Mandik Pusake di Gedeng Gerung Perigi, Gerung, akhir pekan kemarin.

Dalam ritual ini, kata dia, para pemilik keris dari seluruh penjuru Lombok datang ke tempat yang sudah ditentukan untuk berkumpul membawa keris masing-masing. Tujuannya untuk silaturahmi sekaligus bergiliran menunggu satu per satu keris mereka dimandikan oleh tokoh adat yang sudah terpilih.

Ritual juga diiringi oleh pembacaan lontar atau paos (bacaan yang tertulis pada daun lontar yang berisi tulisan sansekerta yang mengandung nilai-nilai moral yang tinggi). “Biasanya dimandikan dengan air yang telah dicampur tujuh jenis bunga setaman. Setidaknya harus ada tiga jenis bunga yaitu bunga cempaka, sandat dan mawar. Itu tidak boleh tidak ada dalam prosesi ini, karena mencari tujuh jenis itu sangat sulit,” paparnya.

“Ini (keris-keris, Red) kan barang bagus. Untuk memeliharanya itu jangan hanya disimpan dalam sarungnya saja, perlu kita buka paling tidak setahun sekali untuk memastikannya masih utuh, dan kalau ada kotor maka perlu dibersihkan,” lanjutnya.

Dengan begitu, keris-keris dari seluruh penjuru Lombok bisa diinventarisir dan lebih mudah untuk melacak keberadaannya di waktu mendatang.

“Kita catat satu per satu, namanya dan asalnya. Jadi tahun depan bisa kita cek lagi mana yang tidak ada, dan lebih mudah kita mengetahui keberadaan keris-keris ini,” sambungnya.

Awalnya, Miq Sajim mengaku mengadakan ritual ini hanya dalam skala kecil di Lombok Barat saja. Ia tak menyangka antusias pecinta budaya terutama pecinta keris semakin tinggi. Bahkan, saat ini dalam sekali ritual bisa terkumpul ratusan keris untuk dimandikan.

Melihat antusias masyarakat atas ritual Mandik Pusake iini sangat tinggi, dirinya sangat berharap agar ke depannya pemerintah daerah bisa melihat potensi itu. Agar ritual tersebut bisa digagas sebagai event yang bisa disaksikan semua orang.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat H. M. Fajar Taufik melihat ritual ini sebagai ajang untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk dapat mencintai budaya lokal di Lombok.

“Keris sebagai warisan budaya nasional yg telah diakui dunia, didorong menjadi bagian dari ekonomi kreatif sehingga harus dilestarikan,” tutupnya. (yud)