Sejarah “Lingkok Beleq” Batulayar, Tempat Mandi Habib yang Tak Pernah Kering

77
Salah seorang pengunjung yang sedang berwudhu di Lingkok Beleq. (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Lingkok Beleq yang ada di wilayah Batulayar punya sejarahnya sendiri. Selain menjadi salah satu bagian dari rangkaian ziarah makam keramat Batulayar, oleh masyarakat setempat sumur itu juga dinilai menjadi pemandian yang dapat memberi aura positif hingga menyehatkan.

Ketua Nazir makam keramat Batulayar, H. Bahril Asror menuturkan biasanya orang yang hendak berkhalwat di makam keramat akan membersihkan diri terlebih dahulu di sumur yang dulunya juga menjadi tempat mandinya Habib yang disebut juga Datok Batulayar.

“Biasanya orang-orang yang berkhalwat, pengen ketemu langsung sama beliau, Datok Batulayar. Dulu kami dikasih tahu untuk membersihkan diri dulu ke Lingkok Beleq itu,” tuturnya saat ditemui di lingkungan makam belum lama ini.

Setelah selesai mandi, wudhu dan membersihkan diri barulah orang yang berkhalwat tersebut harus jalan kaki ke pantai. Untuk kemudian mendatangi batu yang konon menjadi tumpangan Habib Abdul Rahman Al Idrus, atau yang lebih akrab disapa dengan Syaikh Sayyid Syarif atau Datok Batulayar.

Batu itu pun dikisahkan bisa berlayar saat hendak digunakan untuk pulang ke daerah asal Syaikh Sayyid di Bagdad. Lalu peristiwa itu disaksikan oleh kedua muridnya, Sayyid Zuhri Al Haddad dan Sayyid Ali Al Haddad yang kini sama-sama dimakamkan di makam Batulayar.

“Di sana singgah sebentar ke Batulayar tersebut, barulah langsung jalan ke sini (makam). Itu jalurnya lewat pantai. Dulu memang ada jalannya dari pantai trus langsung naik ke makam,” jelas Bahril. Saat di makam, barulah para peziarah berkhalwat, bersholawat, zikir dan sebagainya. “Tergantung hajatnya, kadang yang datang ke sini ingin bertemu dengan Habib,” lanjutnya.

Diakui, banyak peziarah mengaku bertemu dengan sang Habib, baik saat sedang ziarah maupun sesaat setelah datang ziarah dengan niat dan hati yang bersih.

Sementara itu, peziarah yang ditemui saat berkunjung ke Lingkok Beleq mengaku memeprcayai khasiat air di sumur yang tidak pernah kering itu. Masyarakat yang datang pun langsung berwudhu, menabur kembang, hingga memandikan anak mereka di sana.

“Saya sering bawa keluarga, anak dan cucu ke sini,” ungkap H. Fathoni, salah seorang peziarah asal Desa Penanggak yang membawa serta satu keluarganya ke sana.

Ia mengaku masih sering mendatangi lingkok tersebut, terutama dalam rangkaian ziarah makam saat lebaran ketupat. Walaupun, kata dia, dirinya mendatangi mata air itu sudah tidak sesering dulu, kala dirinya masih muda.

“Iya, sama keluarga selalu ke sini dulu. Jadi kalau mau ke makam, wudhunya batal, bisa wudhu di sini dulu, baru menuju ke makam,” tuturnya.

Penjaga Lingkok Beleq, Amaq Ling menuturkan bahwa mata air itu tetap dikunjungi masyarakat. Tidak hanya warga Batulayar, tetapi juga banyak warga dari wilayah lainnya di Pulau Lombok.

“Pokoknya ada saja yang ke sini, walau pun tidak banyak, tapi tetap ada. Yang ada hajat itu banyak orang-orang jauh yang datang,” bebernya. Berbagai aktivitas dilakukan peziarah di lingkok tersebut. Seperti mandi, berwudhu atau sekadar cuci muka.

Sumur yang dulunya dibangun oleh Habib Abdul Rahman Al Idrus untuk menjadi tempatnya berwudhu dan membersihkan diri itu. Hingga saat ini tidak pernah mengalami kekeringan. Walaupun kawasan sekitar sumur itu kerap dilanda kekeringan saat musim kemarau.

“Tidak pernah kering airnya sumur ini, walaupun musim kemarau insyaallah ada terus airnya,” ungkapnya. Ia berharap agar pemerintah bisa menaruh perhatian terhadap Lingkok Beleq itu sebagai salah satu situs budaya yang harus dijaga.

Sebagai salah satu situs budaya masyarakat asli Batulayar, Lingkok Beleq diharapkan dapat terus hidup dan dikunjungi. Salah satu upaya mendukung pelestariannya adalah dengan meletakkan penunjuk arah, lantaran banyak warga jauh yang ingin datang ke sana. Namun tidak menemukannya karena hingga kini tidak ada petunjuk arah, ataupun sedikit sejarah yang menjelaskan asal mula lingkok tersebut. (yud)