Sektor Usaha Kuliner dan Fesyen Meningkat Selama Ramadan

14
Ketua Japnas NTB, I Made Agus Ariana (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) NTB menyebutkan pada momentum bulan Ramadan 1443 Hijriah tahun ini beberapa sektor usaha mengalami peningkatan pertumbuhan. Terutama pada sektor kuliner dan feysen, dilihat dari permintaannya yang naik dan kondisi usaha semakin membaik.

Jika dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, kondisi pengusaha saat ini jauh lebih baik. Terlebih daya beli masyarakat terus membaik seiring dengan menurunnya kasus Covid-19, serta beberapa kemudahan-kemudahan syarat perjalanan diberlakukan pemerintah pusat.

“Usaha fesyen, kuliner, dan kebutuhan pokok untuk membuat kue-kue itu lagi naik sekarang. Sekarang ini sudah tidak ada PKKM lagi, antusias orang melakukan kegiatan selama Ramadan juga tinggi,” ujar Ketua Japnas NTB, I Made Agus Ariana, Senin (18/4).

Kegiatan selama Ramadan yang biasanya dilakukan seperti buka bersama (bukber) juga mampu mendorong peningkatan usaha kuliner. Begitu juga dengan fesyen, yang mana banyak orang membeli barang berupa pakaian dan sebagainya di sejumlah pusat perbelanjaan.

Kendati, persentase perbandingan secara keseluruhan dengan kondisi Ramadan tahun lalu belum bisa digambarkan, kondisi tahun ini dipastikan lebih baik. “Saya tidak bisa persentase secara pasti, dilihat satu kali lipat (peningkatan). Kalau kita lihat dari antrian di toko-toko bahan kue, toko perabotan dapur, baju, pasar, sekarang ini ramai,” terangnya.

Selain sektor kuliner dan fesyen, beberapa sektor lainnya juga diharapkan ikut tumbuh. Terutama pada sektor industri yang tengah didorong pertumbuhannya. Bahkan kemungkinan akan tumbuh beberapa pabrik-pabrik makanan siap saji, seperti pabrik kopi sachet yang sedang berjalan sekarang.

“Kebetulan itu member (Japnas) yang ada tengah melakukan itu sekarang (pembangunan pabrik kopi sachet, red),” terangnya.

Dampak dari semakin membaiknya pertumbuhan sejumlah sektor, terutama pada fesyen dan kuliner saat ini tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu turut mendorong pergerakan sektor lainnya, termasuk juga pariwisata. Terlebih dengan adanya penambahan penerbangan langsung dari Singapura, Kuala Lumpur (KL) yang mulai awal Mei ini.

“Itu angin segar, karena multiplier effect dari pariwisata besar. Mulai transportasi, akomodasi, kuliner, oleh-oleh, itu menggerakkan ekonomi,” jelasnya.

Begitu juga dengan promosi peluang berinvestasi di bidang pariwisata yang sekarang ini tengah didorong oleh pemerintah. Karena dampak dari pergelaran event beberapa waktu lalu, seperti MotoGP, WSBK dan MXGP yang akan diselenggarakan pada Juni mendatang.

“Itu diharapkan dari jumlah penonton tidak muluk-muluk 1-2 persen saja bisa berinvestasi di sini,” imbuhnya. Dengan perkembangan tersebut, pihaknya sangat optimis kondisi usaha di NTB terus membaik. Apalagi di 2024 akan ada event besar seperti pemilihan presiden, yang diyakini akan mendongkrak juga geliat usaha UMKM. (dpi)