Serapan Naker di Sektor Industri dan UMKM Harus Ditingkatkan

16
Kepala Disnakertrans NTB, I Gede Putu Aryadi (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Serapan tenaga kerja (naker) di dalam daerah seperti NTB perlu ditingkatkan. Terlebih banyak masyarakat yang justru memilih bekerja di luar negeri. Padahal masih banyak sektor kerja yang membutuhkan tenaga kerja, seperti di sektor pengolahan industri dan sektor UMKM.

Agar bisa diserap sektor kerja dalam daerah, para calon naker akan diberi pelatihan peningkatan skill. Tujuan akhirnya, mereka diharapkan mampu membuka lapangan kerja secara mandiri dan menyerap tenaga kerja lebih banyak. Sehingga akan mengurangi angka pengangguran di NTB.

“Saya lihat trennya naik, lapangan usaha perdagangan mampu menyerap tambahan tenaga kerja sebanyak 26,28 ribu orang pada Febuari 2021-Febuari 2022, itu data BPS,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, I Gede Putu Aryadi, Kamis (19/5).

Diterangkan, tingkat pengangguran terbuka (TPK) Februari 2022 sebesar 3,92 persen, turun 0,05 persen poin jika dibandingkan TPK Februari 2021. Angka ini dinilai masih kecil penurunannya oleh Disnakertrans NTB, karena Februari 2022 sebanyak 2,02 juta orang atau 75,67 persen masih bekerja pada sektor informal.

Penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan besar itu disebut Aryadi tergantung pada investasi. Meski saat ini masih dibangun secara bertahap, masuknya investasi mendorong penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan dan UMKM. Maka dari itu program yang ada sekarang dikolaborasikan.

“Kami siapkan SDM (sumber daya manusia) dikolaborasikan dengan industri dalam program pemagangan,” terangnya.

Ia menilai, program pemagangan tenaga kerja pada kedua sektor ini perlu disejajarkan dengan tren pertumbuhan lapangan usaha, baik industri dan UMKM.

“Inilah yang saya sebut Pepadu Plus (pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja terpadu plus). Dunia industri yang lebih tahu kebutuhannya melalui rekrutmen pemagangan,” tuturnya.

Sementara, angka penurunan pengangguran kategori TPK saat ini memang masih kecil. Karena yang ingin dilirik ke depannya adalah para PMI di sektor formal. Di mana sektor informal perlahan dikurangi, lantaran sudah banyak yang terserap di sektor tersebut.

Di sisi lain, PMI NTB yang diberangkatkan ke luar negeri, lanjutnya, haruslah memiliki skill atau kompetensi dasar yang cukup bagus. “Seperti perawat, pertukangan contoh di sektor formal. Kalau yang informal kan itu ada di kebun, pekerja rumah tangga dan lainnya. Ini yang kita inginkan masyarakat bisa beralih ke sektor formal,” ujar Aryadi. (dpi)