Tembakau Rusak, Petani di Lombok Tengah Terus Merugi

91
Tembakau petani terendam air hujan, Selasa (5/7/2022). (Inside Lombok/ist)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Lombok Tengah beberapa hari terakhir telah menyebabkan tanaman tembakau milik petani mengalami kerusakan. Kondisi itu telah membuat petani merugi untuk kesekian kalinya.

Pada musim tanam tahun lalu, ribuan hektare tanaman tembakau milik petani juga mengalami kerusakan akibat anomali cuaca. “Tembakau saya rusaknya sekitar seminggu yang lalu waktu hujan deras. Tembakaunya itu saya cabut dan saya ulang tanam lagi,” lirih Laili, salah satu petani di desa Semoyang Praya Timur saat ditemui Inside Lombok, Selasa (5/7/2022).

Saat ini hujan masih sering mengguyur. Karenanya, ada mesin pompa air yang disewa dari petani lain untuk menyedot air yang menggenang di sawah agar tembakaunya tidak mati lagi. Upaya lain yang dilakukan juga dengan membongkar pematang sawah agar air mengalir.

Di sisi lain, Laili mengaku merugi hingga jutaan rupiah karena kondisi ini. Hal yang sama juga dialami oleh petani tembakau lain di desa tersebut. Belum lagi, banyak petani yang menyewa lahan untuk menanam tembakau. Sehingga kerugiannya diprediksi akan bertambah besar dengan kondisi anomali cuaca saat ini.

“Semuanya di sini tanam tembakau. Karena memang dari dulu selalu itu yang ditanam pas musim begini,” jelasnya.

Untuk saat ini, Laili dan petani lainnya berharap agar tembakau yang ditanam ulang setelah dicabut tersebut bisa tumbuh dengan baik dengan harga jual yang bagus pada saat panen nanti. Selain itu, dia berharap ada bantuan dari pemerintah untuk para petani tembakau ketika mengalami kerugian akibat cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini.

Selama ini, petani diakuinya tidak pernah mendapatkan bantuan apabila mengalami kerugian akibat gagal panen. “Kita dengar ada dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Seandainya dana itu juga bisa membantu kami petani tembakau saat terus-terusan merugi seperti ini,” katanya.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Swadaya Lombok (APETAL), Jopi Hendrayani mengatakan, seyogyanya dana DBHCHT itu bisa menjadi dana taktis untuk petani tembakau ketika petani tembakau gagal panen dan dilanda bencana seperti yang saat ini sedang terjadi.

“Tapi sejauh ini dana DBHCHT itu hanya sebatas angka-angka saja yang muaranya tidak tahu entah kemana,” cetusnya. Pihaknya pun mempertanyakan penggunaan DBHCHT tersebut yang diduganya digunakan bukan untuk kebaikan petani.

Disebutkan, tahun 2021 total DBHCHT yang diterima pemerintah daerah Lombok Tengah sekitar Rp51 miliar. Namun, dia tidak melihat secara jelas aliran dana tersebut. Karena di dalam Peraturan Menteri Keuangan sudah tertera alokasi sekaligus pembagiannya.

Di mana 35 persen adalah bantuan langsung tunai untuk petani tembakau, buruh rokok dan buruh pabrik. Kemudian 15 persen untuk kebutuhan petani dari awal tanam sampai masa panen. “25 persen untuk kesehatan nasional dan 25 persen lagi untuk bantuan hukum. Tapi kemanakah dana itu? Tidak ada yang diterima petani,” tandasnya. (fhr)