Tim Forensik Autopsi Jenazah Korban Pembunuhan di Mataram

Mataram (Inside Lombok) – Tim forensik melakukan autopsi jenazah Hayatul Ulum, korban pembunuhan yang terjadi di Jalan Sultan Kaharudin, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dengan peran pelaku-nya berhasil terungkap dari hasil “scientific crime investigation” (SCI) atau penyidikan berbasis ilmiah dari kepolisian.

Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa yang ditemui di Pemakaman Muslim Sekarbela, Mataram, Sabtu mengatakan tujuan dari pelaksanaan autopsi jenazah ini untuk memastikan penyebab korban meninggal.

“Jadi autopsi ini inisiatif penyidik untuk menambah alat bukti yang nanti akan memberikan keyakinan kepada penyidik dan juga jaksa serta hakim terkait bagaimana korban bisa meninggal dunia,” kata Kadek Adi.

Tentunya, kata dia, penyebab korban meninggal hanya dapat disampaikan oleh ahli forensik. Keterangan dari ahli, jelasnya, bisa didapatkan penyidik berdasarkan hasil autopsi-nya.

“Karena memang bukan kewenangan penyidik untuk menyimpulkan hal tersebut sehingga dibutuhkan autopsi dengan mekanisme dari ahli yang bisa menjelaskan luka mana di tubuh korban yang mengakibatkannya meninggal dunia,” ujarnya.

Meskipun periode meninggal korban pada akhir November 2020, Kadek Adi memastikan bahwa pihaknya akan mendapatkan keterangan ahli yang dapat menguatkan alat buktinya.

“Karena sebelum autopsi, kami sudah lakukan gelar kecil, koordinasi dengan ahli forensik dan kami sudah sampaikan kronologi kejadian. Hasilnya, tim forensik mengatakan bila mana dilakukan autopsi, masih bisa didapatkan alat bukti baru, jadi dokter bilang bisa sehingga kita lakukan autopsi,” ucap dia.

Tim forensik yang melaksanakan autopsi jenazah ini berasal dari tim gabungan yang berada di bawah kendali dr Arfi Syamsun, dokter dari Rumah Sakit Univeristas Mataram.

“Saya membawa anak didik saya dari Unram dan juga dibantu tim dari RSUD Kota Mataram, serta dari Biddokkes Polda NTB,” kata dokter Arfi.

Dari hasil autopsi-nya yang berlangsung sekitar dua jam mulai pukul 10.00 WITA, dokter Arfi memastikan bahwa pihaknya sudah dapat menyimpulkan penyebab kematian korban.

“Hasilnya (autopsi) sudah kita dapatkan tapi akan kita berikan ke penyidik, karena kewenangan-nya ada disana. Jadi tidak ada bagian tubuh yang perlu kami bawa untuk diperiksa lebih lanjut, karena dari hasil autopsi tadi, kita sudah dapatkan hasilnya,” ujar dokter yang masih aktif menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram ini.

Korban Hayatul Ulum dari hasil visum luar, dinyatakan meninggal dunia dengan bekas luka tusuk di bagian dadanya. Insiden penusukan itu terjadi Minggu (29/11) dini hari, di jalan Sultan Kaharudin, Kota Mataram, tepatnya di depan Masjid Nurul A’la Sekarbela.

Menurut keterangan sejumlah saksi yang turut menyaksikan insiden itu, ada dua pelaku yang beraksi pada waktu kejadian dinihari itu. Kedua pelaku tersebut berboncengan menggunakan kendaraan roda dua merek Nmax warna hitam.

Mereka berdua menghampiri korban yang seorang diri menggunakan kendaraan roda dua merek Yamaha Jupiter. Selain itu, ada saksi utama yang berada dekat dengan insiden tersebut. Dia bernama Rahman yang berupaya menyelamatkan korban dengan membawanya ke rumah sakit.

Setelah dilakukan penyelidikan, Tim Satreskrim Polresta Mataram menemukan sebilah belati dari rumah terduga pelaku berinisial IL, asal Mapak Indah, Kota Mataram.

Setelah dilakukan “scientific crime investigation” bersama Tim Puslabfor Mabes Polri, terungkap ada bekas darah manusia yang melekat di gagang belati tersebut. Polisi pun memastikan darah itu identik dengan darah korban Hayatul Ulum.

Dengan adanya hasil yang demikian, IL kemudian ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka bersama pria berinisial BR, rekan-nya yang berperan sebagai joki pada saat penusukan itu terjadi. (Ant)