Tuntas Direhab, Dermaga Tawun Siap Disinggahi Kapal Cepat

Kondisi terkini dermaga Tawun, Sekotong setelah direhab. Minggu (07/11/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Proyek rehabilitasi Dermaga Tawun, Sekotong yang memakan anggaran Rp4,6 miliar lebih telah rampung dikerjakan. PHO telah dilakukan sebelum masa kontrak berakhir pada 17 November mendatang.

Kepala Dishub Lobar, H. M. Najib memaparkan ada dua paket proyek pada dermaga tersebut. Yakni rehabilitasi dermaga dengan anggaran Rp3 miliar, dan rehabilitasi jalan lintasan menuju dermaga “Causeway” dengan anggaran Rp1,6 miliar.

Kedua proyek rehabilitasi itu bersumber dari APBD murni Lobar. “Proyeknya sudah selesai sebelum batas kontrak, jadi kita sudah PHO juga,” ujar Najib, saat ditemui di dermaga Tawun, akhir pekan kemarin.

Untuk lebih mempercantik dan mendorong pemanfaatan optimal dermaga tersebut, pada 2022 mendatang Dishub akan melanjutkan proyek penataan halaman dan tempat parkir kawasan dermaga itu.

“Jadi pelabuhan yang sudah direklamasi ini nanti akan kita jadikan tempat parkir, dan akan kita paving block semua, supaya rapi,” jelasnya.

Dengan begitu diharapkan mulai tahun depan kapal-kapal cepat sudah bisa singgah di sana. Terlebih sekarang dermaga tersebut sudah memiliki dua jalur untuk berlabuh, yang bisa menjadi pintu masuk untuk kapal yang jenisnya lebih tinggi.

Selain itu ada juga pintu untuk berlabuhnya kapal-kapal kecil milik boatman. “Tapi nanti untuk kapal yang akan singgah, syaratnya mereka harus tetap dapat izin dulu dari pelabuhan internasional di Lembar,” papar Kadishub Lobar ini.

Mengingat operasional dermaga masih masuk sebagai otoritas Dinas Perhubungan, pihaknya telah berkoordinasi dengan KSOP Lembar dan Polairud. Terutama agar tahun depan keberadaan dermaga itu dapat dimaksimalkan untuk menjadi persinggahan kapal cepat.

“Kedua dermaga yang ada di Sekotong ini akan kita maksimalkan. Termasuk satunya itu kan dermaga Tembowong, itu akan kita manfaatkan untuk menjadi pelabuhan transportasi bagi masyarakat yang ada di Gili dan para boatman,” jelasnya.

Najib mengakui, bahwa pada awal pengerjaan proyek tersebut memang sempat terjadi deviasi. Penyebabnya keterlambatan pengiriman bahan material dari luar daerah. Namun, setelah material datang, pihak kontraktor disebutnya langsung mempercepat pengerjaan. Sehingga proyek tersebut bisa tuntas sebelum batas kontrak. (yud)