Wagub Akui Kematian Bayi dan Stunting PR Besar NTB

Mataram (Inside Lombok) – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengakui salah satu pekerjaan rumah (PR) terbesar di provinsi itu adalah kematian bayi dan “stunting”.

“Kematian bayi dan stunting merupakan salah satu PR besar di NTB, sehingga sangat perlu terus dilakukan edukasi seluas-luasnya kepada masyarakat. Tidak hanya kepada ibu bayi prematur tetapi juga bagi calon-calon ibu, seperti penanganan bayi prematur dan stunting,” kata Wagub NTB pada seminar “Awam tentang bayi prematur”, di Aula Rinjani Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi (RSUDP) NTB, Sabtu.

Seminar yang mengambil tema “The Premmies, Infinity Dream: Tidak Sekedar Sintas, Tapi Hidup Berkualitas” itu, dalam rangka peringatan Hari Prematur Dunia sekaligus sebagai rangkaian HUT RSUD Provinsi NTB.

Selain itu, Ummi Rohmi sapaan akrabnya menyebutkan salah satu program di NTB adalah revitalisasi posyandu. Jika kegiatan penanganan masalah kesehatan dan masalah sosial diintervensi di tingkat posyandu maka harapannya program menuju Masyarakat NTB Gemilang bisa terwujud.

“Bayi prematur ini harus terus menerus dipantau, karena ada masanya dia harus mengejar sehingga dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas yang sama dengan anak normal pada umumnya. Tidak hanya sehat tetapi juga pintar dan cerdas,” ujarnya.

Karena itu, ia mengapresiasi kegiatan tersebut yang digagas sekaligus dalam rangka Hari Kesehatan Dunia yang bertema “Generasi Sehat, Indonesia Unggul” untuk mendukung program pemerintah dalam menurunkan angka stunting di NTB.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur RSUDP NTB, dr. Agus Rusdhy, mengungkapkan, setiap tahun di seluruh dunia, sekitar 15 juta bayi terlahir prematur. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-5 kelahiran prematur tertinggi di dunia. WHO mencatat ada 675.700 kelahiran prematur di Indonesia.

“WHO mencatat terjadi peningkatan angka kelahiran prematur selama 20 tahun terakhir,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bayi prematur memiliki banyak tantangan kesehatan setelah lahir, seperti gangguan pernafasan, peningkatan risiko infeksi, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular atau non communicable diseases (NDS) seperti, hipertensi dan diabetes di kemudian hari, atau masalah kesehatan yang lain.

“Salah satu cara mengurangi hal tersebut adalah dengan mengetahui faktor risiko ibu melahirkan anak prematur,” ujarnya.

Rusdhy mengatakan, anak yang terlahir prematur berisiko memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena dapat berdampak pada tumbuh kembangnya, baik dalam jangka pendek ataupun panjang.

Bayi prematur memiliki resiko stunting, sehingga jika salah dalam pengolahan dan pengembangannya, maka pertumbuhannya tidak akan secepat anak normal.

“Perlu juga diingat bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan setelah ia lahir. Masa depan seorang anak dipengaruhi oleh status kesehatan pada seribu  hari pertama, dimulai sejak masih di dalam kandungan ibu (270 hari),” ujarnya.

Karena itu, ketika anak lahir prematur, salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah penanganan nutrisi untuk mengejar ketinggalan tumbuh kembang selama periode emas seribu HPK tersebut. (Ant)