Wagub Sebut NTB Butuh Strategi Mengejar Ketertinggalan Literasi

Wakil Gubernur NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat membuka Webinar Nasional Pendidikan Literasi dan host Yuraeda Mufidah , Rabu (30/6/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan, butuh strategi di dalam mengejar ketertinggalan literasi di NTB. Strategi tersebut, di antaranya adalah membuat literasi menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi para siswa. Dengan begitu, lambat laun membaca akan menjadi suatu kebiasaan.

“Setelah anak-anak membaca lalu ada sesi tanya jawab dengan cara inovatif. Karena kalau diskusi saja dan tidak ada implementasi akan sangat panjang untuk mengejar ketertinggalan literasi NTB,”kata Rohmi saat membuka Webinar Nasional Pendidikan Literasi, Rabu (30/6/2021).

Literasi harus menyenangkan dan terhubung setiap harinya dengan anak-anak. Seperti di di dalam kegiatan posyandu, semestinya ada pojok baca. Selain itu, setiap Pemerintah Desa juga harus menyiapkan pojok perpustakaan. Begitu juga dengan setiap sekolah ada perpustakaan yang jadi favorit sisa.

“Dibuat seni agar membaca jadi sesuatu yang menyenangkan. Sehingga membaca menjadi kebiasaan. Setiap hari anak-anak membaca begitu wadahnya didekatkan,”imbuhnya.

Yang tidak kalah penting, kata Rohmi, para guru harus lebih dulu cinta membaca. Sehingga bisa menjadi contoh dan menularkan hal itu kepada anak didik. Hal ini juga berguna agar para guru tidak mudah termakan hoaks. Karena memiliki informasi yang bisa dipertanggungjawabkan melalui membaca.

“Saya berharap semua pihak bisa membuat perencanaan dan masterplan terkait apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan literasi ini,”ujarnya.

Budaya membaca di Provinsi NTB memang dinilai masih rendah. Berdasarkan penilaian Dinas Pendidikan NTB pada tahun 2019, kualitas pendidikan di NTB berada pada posisi 33 dari 34 provinsi di Indonesia.

Kualitas pendidikan tersebut selaras dengan kondisi literasi di NTB yang berada pada posisi 31 di Indonesia. Indikator lemahnya minat baca di NTB dari 100 ribu penduduk hanya ada satu orang yang membaca buku.

Direktur Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Mark Heyward dalam kesempatan itu mengatakan, berdasarkan survey yang telah dilakukan pihaknya, hampir separuh anak kelas IV di Indonesia termasuk NTB belum bisa membaca dan tulis secara mandiri.

“Selain itu 25 persen kelas III SD belum mampu membaca kata. Apalagi membaca suku kata. Ini kelas III. Dari empat anak, selalu ada satu yang tidak bisa membaca kata. Ini adalah persoalan yang cukup serius,”tandasnya.

Hanya saja, 90 persen siswa dalam survey itu menyatakan senang membaca. Sehingga rendahnya literasi ini dinilai bukan masalah minat membaca. Namun masalahnya adalah belum ada buku yang cocok untuk dibaca sesuai dengan usia anak.

“Padahal dengan tidak bisa membaca dengan baik, akan susah untuk belajar. Jadi kalau ingin investasi perbaiki literasi, harus mulai kelas I SD yang sudah siap belajar membaca atau Paud yang pra literasi,”jelas Mark.

Dalam survey yang dilakukan, literasi untuk kelas IV SD skornya juga masih sangat rendah. Hal ini karena belum ada kurikulum yang mengatur tentang metode literasi. Dia mencontohkan, pada hari pertama anak masuk sekolah langsung disodori buku paket sekolah tanpa ada metode literasi.

“Belum ada buku yang berjenjang untuk membaca anak. Ada buku yang ada di perpustakaan tapi semua untuk anak yang kelas atas. Tidak ada buku untuk anak kelas awal yang seperti gambar,”katanya.

Kemudian, literasi yang masih rendah ini juga terjadi karena banyak anak Indonesia saat mulai menginjak bangku sekolah belum fasih berbahasa Indonesia. Sehingga seharusnya ada sistem yangd dibangun untuk menyikapi hal ini agar anak bisa mudah untuk membaca.

“Ini termasuk masalah di PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Sampai saat ini belum ada program awal untuk guru bisa mulai mengajar sesuai dengan usia anak ini,”katanya.

Program INOVASI yang merupakan program kerjasama pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia, lanjut Mark, akan mendukung peningkatan literasi di NTB ini.
Salah satu cara yang sejauh ini efektif adalah keberadaan relawan literasi. Saat ini jumlahnya sekitar 900 orang relawan dan sudah menyasar sekitar dua ribuan anak.

Adanya Relawan Literasi yg didorong oleh INOVASI NTB ini, adalah alternatif bagi anak-anak untuk memperkuat literasi di masa
pandemi.

Webinar Nasional Pendidikan Literasi ini sendiri merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan sekaligus membuka wawasan bagi para calon guru tentang kondisi literasi yang ada di provinsi NTB dan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengurai persoalan itu. Ini diharapkan akan menjadi pelecut semangat bagi mereka untuk berbuat lebih kreatif ketika nanti sudah bertugas sebagai guru.

Secara lebih spesifik menurut Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Hamzanwadi, Dr. Abdullah Muzakkar Kegiatan Seminar Pendidikan Literasi ini adalah bagian dari penguatan literasi dari mata kuliah Bahasa Indonesia di Program Studi PGSD.

Penguatan Literasi sendiri memang telah menjadi perhatian serius di FIP sebagai upaya mewujudkan generasi masa depan NTB yang gemilang.