Wali Kota Mataram Pertimbangkan Pembukaan Sekolah saat Pandemi

Mataram, 01/3 (Inside Lombok) – Wali kota Mataram H Mohan Roliskana mempertimbangkan usulan pembukaan sekolah untuk kegiatan bejalar tatap muka di tengah pandemi COVID-19.

“Untuk membuka sekolah butuh persiapan pencegahan COVID-19 secara maksimal. Karena itu, kita akan pertimbangkan sambil melihat perkembangan COVID-19 dalam beberapa pekan ke depan,” katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Senin.

Apalagi, lanjut Mohan yang baru dilantik menjadi Wali Kota Mataram pada 26 Februari 2021, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) menyebutkan dari 50 kelurahan sebagian bersat berstatus zona merah dan oranye COVID-19.

Selain itu, penambahan pasien positif baru COVID-19 setiap hari juga masih tetap terjadi, kendati dibarengi dengan tambahan pasien sembuh.

Berdasarkan data Senin (1/3), terkonfirmasi 17 pasien dinyatakan sembuh dan 6 kasus positif baru COVID-19. Dengan demikian, jumlah pasien sembuh menjadi 2.111 orang dan 51 orang masih dalam perawatan serta 115 meninggal dunia.

“Oleh karena itu, untuk membuka sekolah hal tersebut harus menjadi perhatian agar tidak menimbulkan klaster baru. Terlebih kedasaran masyarakat terhadap protokol kesehatan sekarang bukannya meningkat, tapi semakin kendor dan ini menjadi tantangan kita,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali sebelumnya mengatakan, kegiatan belajar dari rumah sampai sekarang tetap berjalan dengan dua sistem yaitu sistem daring (dalam jaringan) atau “online” dan luring (luar jaringan) bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas android dan jaringan internet.

“Untuk sistem pembelajaran luring digunakan 2 opsi yakni, guru yang mendatangi siswa atau orang tua yang datang ke sekolah mengambil materi pembelajaran,” katanya.

Fatwir mengakui, saat ini sudah banyak orang tua yang meminta agar sekolah dibuka, namun masih ada juga orang tua yang kontra karena khawatir terhadap penyebaran dan penularan COVID-19.

Membuka sekolah berarti harus berani dalam segala risiko yang ada, tapi jangan sampai sekolah disalahkan apabila ditemukan kasus positif baru COVID-19, dengan klaster sekolah.

“Karena itu, kami tetap berkomitmen tidak akan membuka sebelum ada izin dari gugus COVID-19,” katanya. (Ant))