Warga NTB Diminta Tak Panik Terkait Persediaan Bahan Pokok

Dinas Perdagangan NTB bersama Polda NTB dan unsur terkait saat operasi pasar untuk monitoring perkembangan harga sembako dan antisipasi penimbunan bahan pokok oleh tengkulak, distributor, retailer dan oknum lainnya yang mamanfaatkan situasi di tengah pandemi COVID-19 di wilayah NTB. (Inside Lombok/ANTARA/Diskominfotik NTB/Dok).

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat meminta masyarakat tidak panik karena persediaan bahan pokok di daerah itu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di tengah merebaknya virus Corona jenis baru COVID-19.

“Kita pastikan ketersediaan bahan pokok di NTB mencukupi kebutuhan masyaraat,” kata Kepala Dinas Perdagangan NTB H. Fathurrahman di Mataram, Selasa, di sela operasi pasar untuk monitoring perkembangan harga sembako dan antisipasi penimbunan bahan pokok oleh oknum-oknum tidak bertangugng jawab  yang mamanfaatkan situasi di tengah pandemi COVID-19.

Dinas Perdagangan menggelar operasi pasar untuk memastikan kebutuhan bahan pokok di NTB terpenuhi selama wabah corona.

Dalam operasi kali ini, Pemerintah NTB bekerja sama dengan Satgas Pangan Polda NTB meninjau sejumlah ritel modern seperti toko, supermarket dan penyedia bahan pokok lainnya, terutama di sekitar Kota Mataram.

Ia menyebutkan, untuk bahan pokok seperti beras, hingga saat ini masih tetap stabil baik harga maupun stok.

Berdasarkan keterangan dari Bulog, stok beras di NTB saat ini mencapai 41.000 ton dan terdapat 11 ton gabah kering. Jika dikalkulasikan dengan kebutuhan masyarakat NTB per harinya hanya 6.000 ton beras. Belum lagi jumlah beras yang masuk per hari ke Divre Bulog mencapai 100 Ton. Artinya stok beras di NTB masih tetap aman untuk ke depannya.

“Dengan jumlah yang cukup banyak, maka stok beras untuk belasan bulan ke depan masih terpantau aman,” ucapnya.

Mantan Kepala BKD NTB tersebut menegaskan stok beras juga ada penambahan dari Bulog pusat sekitar 29.000 ton yang akan didistribusikan ke daerah NTB sehingga ketersediaan beras tidak ada persoalan.

Selain beras, kebutuhan pokok seperti gula, minyak goreng, dan telur ayam juga memadai.

“Untuk gula memang ada kenaikan harga menjadi Rp16.700/kg di tingkat distributor sehingga dijual eceran Rp17.300/kg, sedangkan harga eceran tertinggi dari pemerintah sebelumnya adalah Rp12.500/kg,” terang Fathurrahman.

Artinya, ada kenaikan sebesar Rp 5.800/kg dan kenaikan tersebut cukup tinggi. Kenaikan ini disebabkan perusahaan gula lokal di Pulau Sumbawa mengalami kekurangan stok,” sambungnya.

Meski demikian, pihak Bulog NTB juga akan mendapatkan 1.000 ton gula dari Bulog pusat sedangkan untuk persediaan minyak goreng maupun telur ayam masih aman karena Bulog mengadakan program pelayanan penjualan langsung ke masyarakat sebanyak 100 liter per hari. Untuk ketersediaan minyak goreng tetap ada dalam seminggu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat begitupun dengan telur ayam.

Sementara itu, Ketua Satgas Pangan Polda NTB Kombes Pol I Putu Gede Ekawana yang ikut melakukan operasi pasar mengingatkan kembali kepada para tengkulak dan distributor yang melakukan spekulasi dengan menaikan harga bahan pokok dalam tahap darurat virus corona, karena hal itu tidak manusiawi  dan merugikan masyarakat banyak.

“Kalau ada yang menimbun stok dan memainkan harga jual maka kami tidak segan-segan mengmbil tindakan hukum. Kami akan terus melakukan pengawasan yang intensif,” tegasnya.

Operasi pasar sembako kali ini dilakukan di sejumlah titik seperti Ruby Supermarket, Niaga Supermarket, UD. Sukses Karya Mandiri Selagalas, Alfa Mart Gudang Labuapi, UD. Sinta Telur Ayam, Indomarco Labuapi, JB Gudang Kediri dan Indomaret Gudang Baypass Bandara. (Ant)