Waspada Dampak Perang Rusia dan Ukraina bagi Dunia Usaha

30
Ketua Japnas NTB, I Made Agus Ariana (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina dikhawatirkan mengakibatkan krisis global di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Pasalnya kondisi tersebut juga akan berdampak pada dunia usaha, bahkan dapat berdampak krisis pangan sehingga perlu diwaspadai agar tidak berdampak.

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) NTB, I Made Agus Ariana mengakui dengan adanya konflik yang terjadi antar dua negara tersebut akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia ini akan melandai, termasuk di daerah seperti NTB. Padahal pascapandemi Covid-19 diharapkan ekonomi tumbuh naik. Namun sebaliknya, ekonomi terlihat akan melandai karena ada beberapa kenaikan harga. Baik dari energi yang naiknya gila-gilaan, kemudian gas hingga mata uang kripto sempat terkoreksi hancur-hancuran, ekspor global dan lainnya semua pasti berdampak.

“Mungkin di Indonesia sendiri belum langsung dirasakan secara makro, tapi sudah kelihatan dari harga BBM langsung naik. Ya pastinya akan berdampak cepat atau lambat mempengaruhi harga di pasaran,” tutur Ariana, Selasa (17/5).

Konflik politik itu juga telah menyebabkan terjadinya krisis pangan global saat ini menjadi ancaman berat bagi dunia. Fenomena ini akan berdampak sistemik berupa krisis sosial maupun politik. Kelangkaan beberapa komoditas bahan pangan seperti kedelai dan gandum, hingga kelangkaan pasokan minyak akibat perang menyebabkan inflasi global yang ditandai dengan kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

“Kalau kita tetap mempertahankan bahan baku yang impor dari luar ya pasti akan berdampak, seperti roti-roti dan gandum banyak dari negara-negara itu (Rusia dan Ukraina). Kalau untuk beras ikan, daging mungkin kita pasti bertahan,” terangnya

Diakuinya, pastilah akan berdampak tetapi berita terakhir Indonesia minta agar perang tersebut segera selesai. Kendati, antisipasi cepat dibutuhkan untuk mengurangi dampak ekonomi dari konflik tersebut. Untuk di NTB, pada sektor usaha tahu tempe yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku pembuatannya, misalnya, bisa saja terdampak..

“Walaupun kita petani sendiri memproduksi (kedelai dan lain-lainnya, Red) tetapi tetap saja kekurangan,” katanya.

Sementara itu, jika melihat dari kondisi konflik politik Rusia antara Ukraina sektor paling berdampak yakni energi, karena dampaknya sudah dirasakan mulai dari kenaikan harga BBM dan lainnya. Sedangkan, jika berbicara pariwisata sudah mulai banyak kunjungan ke tempat wisata.

“Yang Kita persoalkan harga Pertamax naik, kemudian gas sudah mulai limit, sekarang sudah tidak lagi. Kalau yang lain masih bagus, ini paling berdampak itu sektor energi paling terasa,” jelasnya. (dpi)