30.5 C
Mataram
Jumat, 21 Juni 2024
BerandaEkonomiProduksi Berkurang Akibat Perubahan Cuaca, Harga Garam Meroket

Produksi Berkurang Akibat Perubahan Cuaca, Harga Garam Meroket

Mataram (Inside Lombok) – Perubahan cuaca yang tidak menentu beberapa waktu belakangan mempengaruhi jumlah produksi garam di NTB. Produksi yang berkurang membuat harga garam meroket hingga Rp600 ribu per karung, dari kisaran biasanya Rp100-200 ribu per karung untuk garam kasar.

“Kenaikan harga garam ini ditentukan situasi pasar dan dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Sekarang harga garam bervariasi, di tingkat petani di Bima sudah di atas Rp1 ribu per kilogram (kg). Biasanya Rp300-500 per kg untuk garam kasar,” ujar Kepala Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, melalui Kepala Bidang P2SP3K, Hikmah Aslinasari, Jumat (19/5).

Untuk produksi garam di NTB tak dapat dipungkiri masih dilakukan secara konvensional oleh petani, sehingga hasil produksinya tidak banyak. Lain halnya jika menggunakan teknologi, tentu produksinya lebih banyak dan standar kualitasnya lebih baik.

“Ke depannya diharapkan NTB dapat memproduksi garam dengan teknologi, salah satunya rumah kaca. Selain itu, manajemen stok harus dilakukan. Harapannya BUMD kita, yaitu GNE (Gerbang NTB Emas) membeli dan menampung garam kita. Karena sudah ada Perda kita tentang garam,” terangnya.

- Advertisement -

Berdasarkan data produksi garam NTB pada 2022, produksi garam sebesar 86.429 ton. Dihasilkan dari produksi di Bima 77,740 ton, Lombok Tengah 975 ton, Kabupaten Sumbawa 4.336 ton, kota Bima 31 ton, Lombok Barat 962 ton. Dan Lombok Timur 2.386 ton. “Tahun-tahun sebelumnya, produksi garam sekitar 200 ribu ton. Itu yang memproduksi ada di beberapa kabupaten di pulau Sumbawa dan Lombok,” tuturnya.

Terpisah, salah satu pedagang garam di Pasar Induk Mandalika, Sairah mengatakan saat ini harga garam mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Kenaikkannya sudah terjadi beberapa bulan belakangan, penyebabnya karena perubahan iklim.

“Orang yang buat (garam, Red) tidak ada. Kebanyakan hasil produksi rusak. Karena cuaca ini,” ujarnya.

Sebelumnya, harga garam kasar antara Rp100-200 ribu per karung. Saat ini sudah naik berlipat-lipat menjadi Rp600 ribu per karung. Sementara garam halus naiknya menjadi Rp1,4 juta per karung. “Sebelumnya harga garam antara Rp3-5 ribu per kg. Sekarang sudah naik menjadi Rp15 ribu per kg,” ungkapnya.

Sebagai informasi, daerah yang memproduksi garam di antaranya Kabupaten Bima dengan luas potensi tambak garam 4.068 hektar dan luas lahan produksi 1.748,02 hektar. Terdiri dari 403 kelompok dengan 3.656 anggota petani garam. Kemudian Kabupaten Sumbawa dengan luas potensi tambak garam 3.555 hektar, luas lahan produksi 1.171,93 hektar. Terdiri dari 23 kelompok dengan 228 anggota petani garam.

Selanjutnya Lombok Timur dengan luas potensi tambak garam 1.383,13 hektar dengan luas lahan produksi 243,82 hektar. Terdiri dari 117 kelompok dengan 1.037 anggota petani garam. Sementara di Kabupaten Lombok Tengah dengan luas potensi tambak garam 369,40 hektar. Luas lahan produksi 58,05 hektar. Terdiri dari 17 kelompok dengan 170 anggota petani garam. Di Kabupaten Lombok Tengah dengan luas potensi tambak garam 354,19 hektar. Luas lahan produksi 135,60 hektar. Terdiri dari 16 kelompok dengan 159 anggota petani garam. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer