Tingkatkan Nilai Tambah Ekonomi, NTB akan Optimalkan Potensi Sektor Pertanian

Sumber: Direktorat Jendral Holtikultura Kementrian Pertanian

Mataram (Inside Lombok) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB menggelar acara yang bertajuk Diseminasi Laporan Perekonomian-Hilirisasi Komoditas Sektor Utama NTB Dalam Mendorong Daya Saing Ekonomi Daerah pada hari Senin (15/07/2019). Acara ini merupakan sebuah forum strategis yang mendiseminasikan hasil pemikiran Bank Indonesia terkait perkembangan ekonomi terkini dan peluang kedepannya.

Pada tahun 2019 ini, tema diseminasi yang diangkat adalah terkait hilirisasi komoditas utama pertanian. Hal ini dikarenakan sektor pertanian merupakan salah satu sektor utama dengan share terbesar dalam PDRB Triwulan I tahun 2019 yaitu 23,41 dan menyerap 864 ribu tenaga kerja dengan persentase 36 persen.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir. Iswandi SE. M.Si., membuka acara ini sekaligus mengemukakan bahwa kegiatan yang diadakan oleh Bank Indonesia sangat strategis dalam mendukung program pemerintah daerah di Provinsi NTB.

“Industrialisasi menjadi program unggulan NTB. Kita ke depan dituntut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Selain sektor pertanian, sektor lainnya diharapkan juga menjadi penopang pertumbahan ekonomi. Diperlukan sinergi antar pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pelaku usaha dan perbankan untuk mensukseskan hilirisasi komoditas sektor utama,” ujar Iswandi dalam kata sambutannya, Senin (15/07/2019).

Berdasarkan hasil kajian Bank Indonesia diperlukan sekitar 36 tahun untuk meningkatkan PDRB dua kali lipat dengan asumsi pertumbuhan hanya 2 persen (yoy) per tahun. Sedangkan jika dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5 persen (yoy) per tahun diperlukan waktu sekitar 12-15 tahun untuk meningkatkan PDRB dua kali lipat, sehingga dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka tingkat kemiskinan di NTB sebesar 14,56 persen dapat diatasi lebih cepat.

“Ekonomi NTB pasca gempa sudah mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif, namun masih rendah. Tantangan ekonomi terkait eksternal juga mempengaruhi ekonomi NTB. Di sisi lain, SDA yang cukup besar memiliki potensi untuk dimanfaatkan” kata Achris Sarwani, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB.

Di samping itu, menurut Achris sendiri tantangan alam juga dihadapi oleh sektor pertanian di Provinsi NTB. Peluang di Sektor Pertanian di NTB memiliki peluang yang besar. Kisah sukses dari beberapa negara seperti Australia, New Zealand, dan Thailand dapat dijadikan contoh.

Ia juga menyebutkan hasil komoditas seperti jagung, kopi, minyak atsiri, kelapa, sayur mayur, tembakau, ikan, rumput laut dan daging menjadi komoditas yang berpeluang besar untuk ditingkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi.

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB, Syarwan menjelaskan bahwa salah satu tantangan dari Provinsi NTB adalah fiskal. Indeks kapasitas fiskal di provinsi dan kota/kabupaten masih rendah. Artinya ketergantungan terhadap pemerintah pusat masih tinggi.

“Sampai dengan Juni 2019 realisasi belanja modal dan DAK fisik masih rendah. Sedangkan Dana Desa telah berjalan secara optimal,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Firmansyah menerangkan hal terkait dengan industrialisasi merupakan proses sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Maka, industrialisasi yang paling mendasar adalah merubah cara pandang, kebiasaan dan nilai-nilai itu.

“Landasan dasar industrialisasi NTB adalah memerlukan perbaikan faktor produksi bahan baku (modal, luas lahan, tenaga kerja), literasi kultur masyarakat, struktur pasar, dan memasuki pasar berbasis platform,” tambah Firmansyah.

Perwakilan dari Agrilogics Fakultas Pertanian Unpad Tomy Perdana, mengungkapkan bahwa rantai pasok masa depan akan langsung ke konsumen, melalui distributor dan supermarket atau dari petani langsung ke horeka (hotel, restoran dan cafe). Diperlukan ekosistem dari layanan nilai untuk memuaskan permintaan konsumen.

“Diperlukan kecerdasan buatan memberikan akses informasi permintaan konsumen secara langsung, akurat, cepat, dan independen. Layanan jasa menjadi penting untuk memberikan nilai tambah dalam sebuah produk. Rantai nilai agribisnis sebagai suatu sistem lebih mudah memulai dari sisi output, dengan memulai memahami pasar, nilai tambah, melibatkan dan edukasi konsumen,” pungkas Tomy.

Pada akhir acara, seluruh pihak yang bersangkutan dalam diseminasi tersebut sepakat bersama untuk mengoptimalkan potensi pada sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan) guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Selain itu juga bersama bersinergi guna melakukan hilirisasi komoditas pada sektor pertanian.