Mantra Sihir R. A. Kartini

292

Ketika mendengar kata penyihir, yang terlintas di benak saya adalah sosok perempuan berambut putih, dekil, kuku panjang, hidung yang kelebihan mancung, kulit keriput, sapu terbang, dan tawa yang menjengkelkan. Sedari belia kita sudah akrab dengan sosok penyihir melalui buku-buku cerita, kartun di televisi, pun cerita-cerita lisan.

Di Indonesia, ada sosok yang sering disebut sebagai penyihir, yaitu Mak Lampir. Bisa jadi ia termasuk salah satu penyihir pribumi perempuan yang paling terkenal sampai saat ini. Sedangkan di Lombok sering beredar cerita-cerita sosok Selaq. Karakter keduanya tak jauh berbeda dengan penyihir pada umumnya: keluar di malam hari lalu pulang menjelang subuh, bisa berubah sesuai keinginannya, menembus dinding, bisa terbang, dan diyakini masyarakat sebagai sosok penganut ilmu hitam.

Lupakan tentang penyihir yang menyeramkan di atas. Mari kita bahas penyihir dari sisi berbeda. Pasti kita sudah akrab dengan sosok perempuan dari keluarga bangsawan bernama R. A. Kartini. Ia adalah seorang tokoh pahlawan yang masih dielu-elukan sampai saat ini. Lalu apa hubungan antara seorang penyihir dan R. A. Kartini?

Baiklah, jadi begini, selain sebagai perempuan menawan berparas ayu, R. A. Kartini adalah sosok yang terkenal atas sikap gigih serta kecerdasannya. Memang, semua itu tak lepas dari privilese yang ia miliki sehingga dapat mengakses ilmu pengetahuan secara lebih mudah— dibandingkan dengan perempuan lain pada masanya.

Berpengetahuan, dan akses ilmu pengetahuan yang cukup luas, tak membuat Kartini sombong serta apatis terhadap kondisi lingkungannya—terutama kepada sesama perempuan. Ia tidak pernah mendiskriminasi perempuan lain hanya karena privilese dirinya, bahkan ia berjuang membukakan akses ilmu pengetahuan bagi perempuan-perempuan pribumi. Karenanya, banyak perempuan pada zaman itu bisa mengenyam pendidikan.

Kalau dipikir-pikir, kesetaraan akses pendidikan saat ini tak lepas dari hasil perjuangan Kartini di masa lalu. Saya ingin berterima kasih atas segala perjuangan Kartini di masa lalu. Karena ialah kita bisa bersekolah tanpa harus berasal dari keturunan bangsawan, tanpa harus memiliki orangtua yang menjabat politik, dan yang pasti tanpa harus ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Bila membaca biografi Kartini, kita akan menemukan warta bagaimana Kartini rutin mengirim surat kepada Ovink-Soer dan Stella, dua sahabat pena yang sangat berperan dalam hidup Kartini muda. Kedua orang inilah yang sering menjadi teman diskusi atas segala keresahan Kartini. Meski hanya melalui surat—kala itu, saya rasa itu sudah cukup untuk memerdekakan bangsa ini. Selain menulis curahan hati tentang bagaimana ketertekanan bangsa ini atas penjajahan saat itu, Kartini juga sering menulis surat tentang bagaimana perempuan yang selalu tertekan dengan adat dan tradisinya. Bahkan ia sampai memberanikan diri untuk menulis surat yang berisi tentang bagaimana perempuan saat itu tidak berani memilih masa depannya sendiri; bahkan sekadar bermimpi pun tak berani.

Selain itu, Kartini juga sering menuliskan tentang kondisi pendidikan di negeri ini—saat itu—yang menurutnya jauh dari kata memadai. Tak hanya kepada Ovink-Soer dan Stella, hal itu juga sering ia sampaikan kepada Rosa Abendanon, istri dari JH Abendanon—Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.
Kelak, JH Abendanon-lah yang mengumpulkan surat-surat Kartini, dan menerbitkannya dalam bentuk buku berjudul Door Duisternis tot Litch (1911). Buku tersebut diterjemahkan oleh sastrawan Armijn Pane di tahun 1939 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini muda mendapat pengetahuan tentang bagaimana pergerakan feminis melalui sahabat-sahabat pena yang ia miliki. Kalau saja Kartini tak seberani itu, atau bahkan bersikap apatis, mungkin perempuan Indonesia akan lebih lambat lagi dalam mengakses pendidikan.

Dari cerita singkat Kartini inilah saya ingin menyampaikan bahwa ia adalah salah satu sosok penyihir perempuan (nyata) paling terampil yang dimiliki oleh bangsa ini. Lewat surat-suratnya, ia mampu menyihir banyak orang, seolah semua kalimat dalam surat tersebut adalah kumpulan mantra-mantra sakti yang mampu menyihir segalanya.

Namun, sekarang, kenikmatan akses yang mestinya dijaga itu malah membuat sebagian dari kita terlena, bahkan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi yang merugikan orang lain. Kenikmatan akses pendidikan belum merata di Indonesia karena masih banyak anak-anak yang buta huruf. Salah satu faktor penyebabnya adalah penyelewengan anggaran oleh pejabat sektor pendidikan.

Nah, berkaca dari itu, timbul sebuah pertanyaan dalam benak saya:

“Ke manakah terang yang sudah terbit oleh mantra Kartini?”

Kemudian saya jawab sendiri:

“Kemungkinan sinar itu meredup atau mungkin sudah padam.”

Lalu, apakah Kartini harus bangkit dari alam kuburnya untuk menyihir para koruptor dana pendidikan?

IMG 20220423 WA0011 1

Ali Sodikin, lahir di Tetebatu, Kec. Sikur, Lombok Timur, 27 Juni 1998. Saat ini berkuliah di salah satu universitas di Lombok. Bisa disapa di akun media sosialnya: @alisdknn (Instagram) dan Alisdkn (Facebook).