Menikah (Seharusnya) ≠ Mengubur Cita-cita

356

Menikah, ya?

Dari sudut pandang Islam, menikah disebut-sebut sebagai ibadah yang paling panjang. Bila demikian, apakah tindakan para orangtua, yang mengakhiri pernikahan pertamanya demi pernikahan kedua dan ketiga—dan seterusnya—sampai rela menelantarkan keturunannya dari pernikahan pertama, dapat dihitung sebagai dosa yang paling panjang?

Bagi saya, menikah adalah hal yang sangat menakutkan saat ini. Ada beberapa sebab, dan di antaranya akan saya jabarkan melalui tulisan ini.

Begitu mendengar kata “menikah”, dalam kepala saya langsung muncul angka-angka dari segepok uang, juga—yang tak kalah bikin takut—ancaman akan kehilangan kebebasan di masa muda. Banyak teman, sahabat, bahkan kerabat, pernah saya lempari pertanyaan seperti ini: “Hal yang paling menyenangkan dari menikah itu apa?”

Jawabannya beragam, dan satu di antaranya: “Yang paling menyenangkan adalah bisa terus bersama sang kekasih.”

Dari jawaban yang menurut saya lucu itu, muncullah pikiran lanjutan. Saya pikir, menikah bukan sekadar senang untuk terus bersama kekasih. Setiap orang, sebelum memiliki kekasih, mungkin punya mimpi atau rencana-rencana hidup yang hendak dicapai. Apakah setelah menikah, mimpi itu masih bisa diraih? Atau justru menjadi tanah kubur bagi mimpi masing-masing?

Banyak kasus kegagalan pernikahan yang pernah saya jumpai, salah satunya adalah orangtua saya sendiri. Mereka memutuskan menikah di bawah usia rata-rata Undang-undang Perkawinan yang telah sejak lama diatur oleh negara. Kala itu, bapak saya memang sudah memasuki usia boleh menikah, yakni 19 tahun. Namun, ibu saya belum, beliau masih berusia 15 tahun!

Meski demikian, pada era 90-an, pernikahan usia dini bukanlah masalah yang berarti bagi warga masyarakat, bahkan hal tersebut menjadi lumrah. Menurut mereka menikah adalah penyelesaian dari segala masalah: kenakalan remaja, kesulitan ekonomi, putus sekolah, dan (bahkan) perasaan kesepian.

Setelah dewasa, saya menyadari bahwa perjalanan pernikahan kedua orangtua saya terkesan sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana tidak, beberapa bulan setelah pernikahan disahkan, bapak saya memutuskan merantau ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selang beberapa tahun, bapak dan ibu saya akhirnya bercerai. Sebelumnya, pertengkaran hingga perselingkuhan telah mewarnai perjalanan pernikahan mereka. Hal itu—sampai sekarang—menyisakan kenangan yang begitu pilu dalam benak saya.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orangtua saya. Namun, jika dilihat lebih dalam, konflik-konflik dalam rumah tangga mereka disebabkan karena kurangnya kesiapan mereka dalam menjalani pernikahan. Itu dapat dilihat dari usia, kestabilan ekonomi, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Usia yang belum begitu matang mengakibatkan sikap dan keputusan yang diambil oleh mereka terasa “mentah”. Dan, kestabilan ekonomi yang belum tercapai mengharuskan mereka rela hidup terpisah selama bertahun-tahun. Lebih parah lagi, ilmu pengetahuan yang belum memadai akhirnya menyeret mereka kepada sikap-sikap tidak bijak. Pada akhirnya, kata “cerai” terucap dari mulut mereka.

Akhirnya, mungkin terlalu naif bila pernikahan saya gambarkan sebagai akhir dari segalanya. Masa kecil sudah saya lalui dengan menyaksikan praktik pernikahan yang tak matang dari orangtua, dan kini, setelah dewasa saya harus menyaksikan praktik pernikahan yang juga—menurut saya—menyedihkan.

Seorang teman saya memutuskan untuk menikah setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya. Di awal pernikahan, kehidupannya terlihat normal layaknya pasangan suami-istri pada umumnya. Akan tetapi, untuk mencapai kenormalan itu ia telah menukar satu hal penting: waktu meraih mimpi dan cita-cita bersama teman-temannya. Dengan demikian, perlahan saya merasakan sebuah kekecewaan dalam diri; bahwa cita-cita kami bersama telah gugur.

Saya yakin kekecewaan ini tidak saya rasakan sendiri, karena salah satu cita-cita kami adalah memudahkan akses bacaan, semacam rumah baca, di lingkup desa tempat kami bermukim. Itu adalah cita-cita kolektif yang—awalnya—berhasil kami dirikan. Tidak hanya itu, kami pun melaksanakan kegiatan demi kegiatan setelahnya. Semua itu berjalan lancar tanpa ada kendala yang begitu berarti. Sayangnya, setelah salah satu dari kami menikah, situasi mau tak mau harus berubah. Kini, mengobrol lewat pesan singkat saja rasanya canggung sekali.

Saya mengerti bahwa sungguhlah menyenangkan menyaksikan wajah kekasih di pagi hari. Saya juga paham: memiliki anak yang menggemaskan hingga menjadi buah bibir tetangga itu sangatlah membanggakan. Namun, luar dari itu semua, saya seperti ogah memahami bahwa ada orang yang rela menukarkan cita-citanya dengan kehidupan pernikahan; alih-alih menyiasati untuk tetap meraih cita-cita meski telah menikah.

Di sini saya tidak sepenuhnya menyalahkan sikap siapapun, keputusan siapapun, dan anggapan apapun. Saya hanya menyampaikan rasa kecewa, serta mengecam pernikahan usia dini—terlebih pernikahan tanpa persiapan yang matang. Karena sejatinya menikah itu bukanlah sebuah alasan untuk menjauhi sahabat, bukan alasan untuk tidak melakukan segala hobi yang baik untuk aktualisasi diri sendiri, juga bukan alasan untuk mengubur segala cita-cita.

10 Maret 2022

IMG 20220402 WA0008Ali Sodikin, lahir 27 Juni 1998 di Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Saat ini berkuliah di salah satu universitas di Lombok. Bisa disapa di akun media sosialnya: @alisdknn (Instagram) dan Alisdkn (Facebook), atau emailnya: alisdkn469@gmail.com.