Sukses Sejalan dengan Zaman berkat Bahasa Inggris

136

 

Bahasa, oleh manusia, adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan niatan. Ia mencerminkan identitas seseorang, baik suku, agama, atau pun pilihan politik. Sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki dua output atau produksi, yakni lisan (berbicara) dan tulisan (menulis). Kedua output tersebut pasti ada di masing-masing jenis bahasa di dunia, dan tulisan ini akan fokus kepada output bahasa Inggris—sebagai salah satu bahasa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat.

Meski kini penggunaan bahasa Inggris tampak masif—terutama di media sosial, ternyata itu tidak menutupi fakta bahwa bahasa Inggris masih belum merata digunakan di Indonesia. Meskipun sudah dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah menengah di Indonesia, bahasa Inggris masih belum dikuasai secara baik oleh para pelajar. Hal sederhana yang bisa diduga, terutama oleh para guru bahasa Inggris seperti saya ini, adalah karena mental para pelajar yang masih takut salah dalam berbicara dan menulis—sebagai wujud output bahasa. Dan, itu kemungkinan terjadi karena bahasa Inggris belum dijadikan alat komunikasi di kehidupan sehari-hari.

Biasanya, bahasa Inggris dipelajari di sekolah semata-mata memenuhi kewajiban mata pelajaran, dan tentu demi nilai bagus. Sayangnya, itu semua sudah tidak sepenuhnya relevan mengingat kebutuhan berbahasa di era global yang nyaris serba digital ini semakin mendekat ke bahasa Inggris. Oleh karena itu, bagi saya, bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran; ia penting untuk dipelajari secara serius guna meningkatkan kualitas diri, termasuk di dalamnya meraih tujuan-tujuan hidup di era global.

Di lingkup akademik, mampu berbahasa Inggris juga menciptakan jembatan bagi individu untuk melanjutkan pendidikan di ruang berskala internasional, baik dengan biaya sendiri maupun melalui beasiswa. Hampir seluruh beasiswa di dunia mensyaratkan sertifikat TOEFL (Test of English as Foreign Language) atau IELTS (International English Language Testing System) sebagai bukti sah kemampuan berbahasa Inggris para pelamarnya.

Tak hanya untuk mengakses pendidikan, saya percaya bahwa menguasai bahasa Inggris akan semakin membuka peluang karir. Ketika seseorang menguasai output-skills (berbicara dan menulis) bahasa Inggris, ia akan berkesempatan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan—juga besar jenjang karir. Pekerjaan-pekerjaan itu, di antaranya adalah penerjemah, pengajar, pemandu wisata, penulis, pembawa acara, bahkan diplomat. Perusahaan-perusahaan berskala nasional maupun internasional, di banyak bidang, membuka pintu mereka bagi pelamar yang menguasai bahasa Inggris.

Akan tetapi, lebih mendasar dari itu semua, kefasihan berbahasa Inggris akan membuka pintu gudang ilmu dengan lebih luas. Kita tentu tahu bahwa informasi di dunia ini sudah sangat mudah didapat, baik melalui media cetak atau pun elektronik; dan sebagian besar informasi tersebut menggunakan bahasa Inggris. Jika anak-anak muda—katakanlah para pelajar—Indonesia mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara baik, maka mereka akan mampu mengakses informasi langsung dari sumber aslinya (tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia).

Sumber-sumber ilmu seperti library genesis, science direct, pdf drive, sage publication journal, harvard business review, dan lain-lain tentu menjadi tempat yang sangat menggugah ranah intelektual para pelajar. Bagi mereka yang menyukai motivasi, bisa membaca buku Awaken The Giant Within, karya Anthony Robbins; yang senang belajar dunia finansial, bisa membaca Rich Dad Poor Dad oleh Robert T. Kiyosaki, atau The Psychology of Money oleh Morgan Housel; yang mencintai dunia bahasa, mereka mungkin akan menikmati buku A Little Book of Language yang ditulis oleh David Crystal. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua buku tersebut ditulis dalam bahasa Inggris.

Kembali ke mental para pelajar terhadap bahasa Inggris, sebenarnya, mereka dapat terus menambah kosakata dengan tekun membaca buku-buku berbahasa Inggris. Bertambahnya kosakata dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam komunikasi. Efek jangka panjangnya, kualitas diri pun meningkat. Dengan ini pula pemikiran para generasi muda dapat jauh lebih luas dan terbuka.

Keterbukaan tersebut dapat memperluas jaringan pertemanan. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris memungkinkan setiap individu untuk terhubung dari/ke belahan bumi mana pun. Bila ini dilakukan oleh setiap pemuda di Indonesia, maka Global Citizenship menjadi konsekuensi yang pantas. Apa perlunya? Ini diperlukan untuk berbagi perspektif tentang berbagai bidang kehidupan. Sehingga, individu Indonesia bisa terus menjalin mutual cooperation dengan individu dari negara lain. Sudut pandang yang ditukar dan kerjasama yang dijalin itu dilakukan dalam rangka memperbaiki dan mempermudah kehidupan manusia ke depannya. Hal tersebut akan terasa berat bila kita tidak menerima kenyataan bahwa saat ini dunia sudah tidak lagi memiliki sekat; dan salah satu peretas sekat itu adalah bahasa Inggris. Bila kita tidak menguasainya, kecil kemungkinan kita akan sejalan dengan zaman.

IMG 20220122 WA0000I Gede Perdana Putra Narayana, lahir di Mataram, 25 Agustus 1998; domisili Abiantubuh Utara, Cakranegara. Alumni FKIP Universitas Mataram ini sehari-hari berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris.