Alami Komplikasi, Putu Meliati Butuh Bantuan

Putu Meliati saat menjalani perawatan di rumah sakit. (Inside Lombok/Istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Putu Meliati (56) harus menahan rasa sakit lantaran kondisi tubuhnya mengalami komplikasi kanker usus besar, paru-paru, dan pneumonia. Pada tahun 2017, Meliati divonis oleh dokter spesialis dalam menderita Kanker Colond (usus besar) stadium 3B.

Awalnya Putu Meliati mengalami gejala sakit perut dan kondisi menurun selama kurang lebih 2 minggu. Karena tidak kunjung membaik, Putu Meliati memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Siloam di Mataram.

“Saat itu juga, pihak keluarga Meliati langsung memutuskan untuk melanjutkan pengobatan dengan operasi di rumah sakit RKZ Surabaya dan kemotherapi di RS Dr. Soetomo” ujarĀ anak dari Putu Meliati, Agus Sanjaya Prayitna. Jumat (21/02/2020).

Setelah operasi pengobatan dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan kemotherapi sebanyak 9 siklus yang berjalan selama 6 bulan. Setelah menjalani kemotherapi, dokter menyarankan untuk melanjutkan radiasi (sinar bagian perut) sebanyak 25 kali.

Pengobatan sempat selesai pada tahun 2018, namun Meliati harus melakukan check up 3 bulan sekali selama 5 tahun ke depan. Pihak keluarga memutuskan untuk melakukan check up di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan di Surabaya.

“Check up berjalan selama 8 kali dan check up kesembilan di Bulan Mei 2019, ibu kami divonis menderita Kanker Paru-paru. Dokter pun memutuskan untuk melanjutkan kemotherapi tahap kedua sebanyak 12 siklus, namun di siklus ketujuh, ibu kami sudah lemah tak berdaya,” tambahnya.

Dokter pun melanjutkan khemoterapi lagi. Setelah itu, Meliati masih terbaring lemas di rumah hingga tidak mampu untuk menelan makanan dan minuman, sehingga ia langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Untuk 4 bulan terakhir, kondisi ibu saya sudah tidak bisa bangun. Jadi hanya di kasur saja, untuk biaya operasional (pampers, susu kanker, dan lainnya) dan obat-obatan herbal serta vitamin masih menggunakan biaya sendiri,” kata Agus.

Karena keterbatasan biaya pengobatan, pihak keluarga mulai melakukann penggalangan dana melalui link berikut https://kitabisa.com/bantuibuputu?utm_source=whatsapp&utm_medium=socialsharing&utm_campaign=campaignsticky

Selama 3 tahun pengobatan kanker dari tahun 2017, pihak keluarga menggunakan biaya sendiri dan tabungan pribadi. Saat ini Meliati dan keluarga tinggal di Panaraga, Cakranegara, Mataram.

“Kami menggalang dana saat ini saja mulai hari rabu, karena sudah tidak memiliki biaya. Karena dalan 1 hari biaya di rumah sakit mencapai Rp2 juta dan minimal 14 hari dirawat,” pungkasnya.