Alfarizi, Bayi Pederita Penyempitan Usus Asal Narmada Ini Butuh Bantuan

Kondisi Alfarizi saat menjalani perawatan untuk operasi pertamanya di RS Kota Mataram, Kamis lalu (11/04/2019). (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Barat (Inside Lombok ) – Alfarizi, seorang bayi yang baru berusia 19 bulan asal Desa Batu Kute, Narmada, Lombok Barat, menderita penyempitan usus dengan berat badan hanya mencapai 6 kilogram. Penyakit tersebut telah Alfarizi rasakan sejak ia berumur dua bulan.

Kondisi yang dialami Alfarizi terlihat masih sangat memperihatinkan. Perut Alfarizi nampak semakin besar meskipun sudah melewati operasi pertamanya. Ia juga mengeluh sering merasa sakit pada bagian perutnya.

“Masih sering sakit perut. Perutnya juga masih besar walaupun sudah dioperasi,” ujar Rizkya yang merupakan tetangga desa keluarga Alfarizi, kepada Inside Lombok, Senin (29/04/2019).

Sebelumnya Alfarizi sempat dirawat di Rumah Sakit Kota Mataram untuk menjalankan operasi pertamanya pada tanggal 11 April 2019 yang lalu. Namun, untuk saat ini ia sedang menjalankan perawatan jalan di rumahnya untuk operasi kedua.

“(Alfarizi) di rumah sedang melakukan rawat jalan untuk operasi keduanya. Dia dari anak yang kurang mampu,” lanjutnya.

Rizkya juga mengatakan pihak keluarga menggunakan BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) untuk perawatan operasi pertama Alfarizi di RS Kota Mataram tersebut.

Akan tetapi setelah informasi tentang kondisi Alfarizi diviralkan melalui sebuah unggahan di facebook, pihak keluarga mendapatkan bantuan langsung dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional).

Untuk menjalankan operasi keduanya, Alfarizi harus melewati 6 bulan rawat jalan yang dilakukan di kediamannya. Rencananya, setelah 6 bulan rawat jalan dilalui, Alfarizi akan menjalani operasi keduanya di RS Kota Mataram.

Namun, jika alat operasi kurang memadai untuk fasilitasi proses operasi Alfarizi, maka ia akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi Sanglah di Denpasar atau bahkan rumah sakit di Surabaya sebagai pilihan lainnya.

“Kalau alatnya ada di sini (RS Kota Mataram), dioperasi di sini. Kalau tidak, ada rancana ke Sanglah atau Surabaya katanya,” pungkas Rizkya.