Kisah Taufik, Guide Cilik Penyelamat Korban Longsor Tiu Kelep

aufik berfoto bersama salah satu korban yang selamat dari musibah tanah longsor di air terjun Tiu Kelep, Wong Siew Lin, serta Koordinator Global Peace Mission Malaysia (GPMM), Syahrir Azfar bin Saleh, Kamis (21/03/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Mataram (Inside Lombok) – Longsor yang terjadi di Air Terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Minggu (17/03/2019) lalu menewaskan satu orang pemandu wisata asal Desa Senaru, Tomi (14), serta dua orang warga negara Malaysia, Tai Siew Kim serta Lim Sai Wah. Selain itu, puluhan orang mengalami luka-luka akibat tertimba material tanah serta batuan akibat longsor tersebut.

Pada saat kejadian terdapat rombongan wisatawan berjumlah 40 orang warga negara Malaysia yang sedang berlibur di objek wisata tersebut. Salah seorang wisatawan yang berhasil selamat, Wong Siew Lin, menerangkan bahwa rombongan baru sampai di lokasi sekitar 30 menit kemudian gempa mulai terasa serta batu-batu mulai berjatuhan.

“Saya sudah hampir pingsan. Tapi saya berusaha tetap sadar, saya tetap pikir kalau saya harus hidup,” ujar Wong, Kamis (21/03/2019) di Mataram.

Wong sendiri mengalami luka sobek di bagian kepala karena tertimpa bebatuan. Ia mendapatkan jahitan panjang di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Nusa Tenggara Barat (NTB) serta perawatan intensif. Karena itu, Wong merupakan satu dari empat korban yang mendapat jadwal kepulangan terakhir sebab masih perlu menjalani perawatan.

“Saya sangat berterimakasih kepada semua orang yang menyelamatkan saya. Salah satunya penyelamat kecil saya, Taufik,” ujar Wong.

Taufik (7) yang dimaskud wong adalah seorang pemandu wisata (guide) cilik asal Desa Senaru yang sehari-hari bekerja memandu wisatawan di wilayah sekitar air terjun tersebut. Taufik sendiri adalah seorang disabilitas tunarungu dan tunawicara sejak lahir. Namun Wong menerangkan, bahwa ditengah keterbatasan yang dimiliki Taufik, Taufik telah menyelamatkannya di lokasi air terjun tersebut.

“Dia penunjuk jalan. Dia masih anak kecil, tapi dia mendampingi kami selama perjalanan dan proses evakuasi. Seharusnya anak sekecil itu tidak perlu bekerja. Dia masih sangat kecil. Tapi dia menyelamatkan saya,” ujar Wong.

Menaggapi hal tersebut, Koordinator Global Peace Mission Malaysia (GPMM), Syahrir Azfar bin Saleh, selaku tim yang turut terjun menolong korban gempa sejak Agustus 2018 lalu, menerangkan bahwa pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan Kerajaan Malaysia untuk meminta dukungan bagi Taufik atas tindakannya yang telah membantu proses penyelamatan warga negara Malaysia yang menjadi korban longsor tersebut.

“Kami sedang meminta sokongan dan dukungan dari kerajaan Malaysia dimana kita mengangkat adik Taufik yang telah menyelamatkan masyarakat Malaysia, dimana kita harus memberikan ruang bagi adik Taufik untuk hidup seperti orang lain. Kami ingin mengadopsi adik Taufik,” ujar Syahrir, Kamis (21/03/2019).

Syahrir menerangkan bahwa GPMM serta Kerajaan Malaysia akan memberikan perawatan medis kepada Taufik untuk mengatasi disabilitas yang diderita Taufik serta memberikan dukungan pendidikan sampai Taufik kuliah. Taufik sendiri selama ini diketahui memang tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah karena keterbatasan fisiknya.

“Kita akan bawa adik Taufik untuk mendapat perawatan di Malaysia. Kita akan bahwa kisah, semangat, adik taufik yang sudah seperti pahlawan,” tegas Syahrir.

Selain itu Syahrir menerangkan bahwa dirinya bersama GPMM akan menyuarakan bagi seluruh masyarakat Malaysia untuk jangan pernah takut untuk datang ke Indonesia, khususnya Lombok. Hal tersebut menurut Syahrir karena Indonesia dan Malaysia merupakan saudara serumpun yang harus terus saling mendukung dan menguatkan.

Bupati KLU, Najmul Akhyar, bertemu Taufik, pemandu wisata cilik yang membantu proses penyelamatan korban tanah longsor di air terjun Tiu Kelep, Kamis (21/03/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Menanggapi hal tersebut, Bupati KLU, Najmul Akhyar, menerangkan bahwa Pemerintah Kabupaten KLU merasa bangga atas sikap masyarakat KLU yang selalu siap menemani dan menjamin rasa aman serta menolong tanpa pamrih siapapun yang terdampak bencana.

“Apa yang kita saksikan dari kejadian ini menunjukkan bahwa dari segi atau faktor alam mungkin memang ada masalah. Tapi dari sisi kesiapan masyarakat kami untuk memberikan bantuan, pertolongan terbaik, menjadi salah satu kesiapan kami untuk menerima wisatawan kita,” ujar Najmul, Kamis (21/02/2019).

Najmul sendiri berharap keinginan GPMM dan Kerajaan Malaysia untuk membantu Taufik akan membantu Taufik untuk meraih masa depannya.

“Demi kebaikan dan masa depan Taufik, saya pikir itu (pengadopsian, red.) yang terbaik untuk Taufik. Mungkin akan dipulihkan melalui operasi, kemudian disekolahkan. Insyaallah kedepannya semoga dia jadi orang yang sukses,” ujar Najmul.

Menurut Najmul, Taufik merupakan simbol persaudaraan antara Malaysia dan Indonesia, khususnya NTB dan KLU. Selain itu, Najmul menerangkan bahwa sejak tahun lalu 3 Kerajaan Malaysia telah datang ke KLU untuk melakukan kerjasama dibidang kemanusiaan, perdagangan, ekonomi, dan eksport-import.

“Tapi sisi baiknya, ini (tanah longsor, red.) mempererat persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia,” pungkas Najmul.