Perjalanan Panjang Penjual Gula Kapas di Era Modern

    Lombok Timur (Inside Lombok) – Gula kapas atau biasa disebut ketumping merupakan kembang gula yang sangat populer dan paling dinanti-natikan oleh anak-anak pada tahun 80an hingga tahun 2000an. Namun, pada saat ini ketumping sangat sulit sekali ditemukan dan sudah tergerus keberadaannya oleh jajanan modern.

    Sahabuddin (46), seorang warga dari Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur duduk termenung seraya memainkan wadah ketumpingnya. Ia memainkan wadah itu sebagai gendang.

    Sahabuudin mengungkapkan bahwa ia menjual ketumping merupakan warisan turun temurun dari keluarganya. Ia berjualan ketumping sudah puluhan tahun lamanya. Tak hanya berkeliling di Pulau Lombok, namun ia juga pernah berjualan ketumping sampai Pulau Kalimantan.

    “Saya dulu pernah berjualan di Kalimantan sekitar enam tahun lamanya,” ucapnya.

    Umur yang sudah paruh baya, tidak menghentikan langkahnya berjualan ketumping demi meraup rupiah untuk menghidupi keluarganya.

    “Saya berjualan ketumping keliling. Mulai dari rumah sampai ke desa-desa lainnya tiap hari,” tuturnya.

    Tak dapat dihitung berapa kilometer ia melangkah menjajakan ketumpingnya. Namun, meskipun dalam kondisi lelah, senyumnya tak pernah hilang untuk menyapa orang yang lewat di sekitarnya.

    “Dengan senyum ramah mungkin bisa menarik minat orang untuk membeli dagangan saya,” katanya.

    Sahabuddin merupakan seorang ayah dari empat orang anak. Semangatnya dalam menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi membuat ia semangat menjajakan ketumpingnya.

    “Walaupun saya hanya penjual ketumping jalanan, tapi tekad dan cita-cita saya menyekolahkan anak saya ke perguruan tinggi sangatlah besar,” ucapnya.

    Jika ketumpingnya habis ia jajakan dalam sehari, ia bisa meraup keuntungan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Namun jika tidak, ia hanya dapat membawa pulang sekitar Rp50 ribu untuk diberikan kepada istrinya.

    Terlihat jelas garis wajah ayah empat anak ini. Menandakan ia sudah tak muda lagi. Kulitnya semakin gelap, terbakar matahari. Namun semangatnya tak pernah pudar untuk membahagiakan keluarganya.