Dikes Lobar Catat 37 Kasus DBD Sejak Awal Januari

Kegiatan fogging yang dilakukan tim dari Dikes Lobar. (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Selain kasus covid-19, kewaspadaan serta antisipasi terhadap maraknya kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) juga harus tetap ditingkatkan. Di Lombok Barat sendiri, pada awal tahun 2021 sudah tercatat sekitar 37 kasus DBD, satu orang di antaranya meninggal dunia.

Kabid P3KL Dikes Lobar, dr. M. Taufik Fathoni, mengungkap sebanyak 37 pasien di rawat di Rumah Sakit Tripat, Gerung. Di mana sebelumnya dari 37 pasien tersebut, 21 orang di antaranya dirawat di Puskesmas. Tercatat satu pasien yang ditangani di Puskesmas Dasan Tapen, Gerung meninggal.

“Dari data yg masuk ke Dikes sesuai laporan puskesmas, sebanyak 21 pasien sebelumnya dirawat di sana. Lalu, itu juga masuk menjadi data yang kemudian dirawat di Rumah Sakit Gerung sehingga berjumlah menjadi 37 orang” ungkapnya melalui pesan whatsapp, Jum’at (15/01/2021).

Ia megakui penyakit yang penularannya diakibatkan oleh gigitan nyamuk ini memang selalu ada setiap tahunnya.  Sehingga pihak Dikes diakuinya semakin menggiatkan sosialisasi ke setiap Puskesmas yang ada di Lobar untuk menggencarkan survey dan sosialisasi 3M.

“Pokoknya 3M itu harus dan juga mereka harus bergerak melalukan survey jentik nyamuk untuk memastikan ada tidaknya nyamuk DBD” paparnya.

Karena dalam penanggulangan DBD ini, diakuinya fogging bukan lah cara utama untuk mencegah. Karena fogging hanya akan dilakukan apabila di suatu lingkungan sudah ada kasus yang positif DBD. Saat ini pihaknya sudah melakukan fogging di 10 titik di daerah-daerah yang sudah tercatat kasus DBD nya.

Sehingga ia menekankan perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk sama-sama menerapkan 3M (Menguras dan Menutup bak air, serta memanfaatkan/Mendaur ulang kembali barang yang berpotensi menjadi tempat perkembang biakan nyamuk.

“DBD ini memang tidak bisa dihindari apalagi kalau sudah memasuki musimnya, jadi saat-saat sekarang ini banyak yang muncul. Tapi kembali lagi pada pola hidup sehat masyarakat dan menjaga lingkungan” tegasnya.

Di Lombok Barat, Fathoni mengakui bahwa semua kecamatan sama berpotensinya. Tetapi dari hasil deteksi dini yang dilakukan pihaknya, lima kecamatan menjadi daerah yang paling perlu untuk antisipasi. Seperti kecamatan Gerung, lantaran dari tahun lalu hingga awal tahun ini, Gerung disebutnya, masih menjadi daerah dengan kasus DBD paling tinggi. Kemudian disusul dengan kecamatan Lembar, Labuapi, Kuripan dan Kediri.

Sementara itu, Kasi Surveilans Pengamat Penyakit dan Mitigasi Bencana, Dikes Lobar, I Made Sutiana mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun kasus DBD di Lobar mengalami peningkatan. Pada tahun 2019 silam, tercatat sebanyak 257 kasus dengan nol kematian. Yang kemudian mengalami lonjakan pada tahun 2020 lalu menjadi 1.669 kasus dengan empat kasus kematian.

“Empat kasus kematian itu ada yang dari Gerung, Kediri, Batulayar dan Narmada” sebut Sutiana, belum lama ini.