Dinkes Catat Kasus 4.600 Balita Pendek di Mataram

Petugas kesehatan di Kabupaten Lombok Barat mengukur tinggi anak balita. (Foto Inside Lombok/ANTARA NTB/ist) (1)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat, kasus balita pendek atau “stunting” di Kota Mataram, sekitar 4.600 balita yang tersebar di enam kecamatan.

“Jumlah it, merupakan hasil dari validasi tim kami yang melakukan pendataan terhadap balita pendek se-Kota Mataram,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usaman Hadi di Mataram, Senin.

Sementara, angka kekerdilan yang disebut-sebut mencapai 27 persen atau lebih merupakan hasil survei secara nasional, tapi setelah dilakukan pendataan secara rill melalui tim tercatat balita pendek 4.600 atau sekitar 24 persen.

Untuk penanganan balita pendek atau kerdil tersebut, Dinkes Kota Mataram telah menyiapkan anggaran intervensi melalui APBD Kota Mataram sebesar Rp300 juta. Selain itu, ada dana alokasi khususn (DAK) nonfisik untuk mendukung berbagai kegiatan pelayanan dan pendataan.

Sementara alokasi anggaran dari pemerintah daerah sebesar Rp300 juta, kata dia, akan digunakan untuk intervensi melalui berbagai kegiatan penyuluhan, sosialisasi dan penanganan ibu hamil melalui mengaktifkan pemantauan asupan gizi kepada ibu hamil dan balita melalui puskesmas.

“Begitu ibu diketahui positif hamil, petugas akan langsung memberikan edukasi tentang asupan gizi bagi ibu dan bayi, sedangkan untuk balita yang mengalami stunting terus dipantau dan diberikan makanan tambahan secara berkala,” katanya.

Selain itu, kata Usman, Dinas Kesehatan telah memberikan pelatihan kepada para kader posyandu dan mengarahkan kepada para kader agar lebih aktif lagi melakukan edukasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui.

Tujuannya, agar selama masa kehamilan si ibu aktif memeriksakan diri serta mengonsumsi makanan bergizi dan berimbang agar anak dalam kandungan mendapatkan asupan gizi yang baik dan cukup. Begitu juga dengan ibu menyusui.

“Apalagi untuk pelayanan ibu hamil di puskesmas sudah kamiĀ siapkan, termasuk makanan tambahan dan susu. Jadi ibu hamil tidak perlu beli susu karena telah disiapkan pemerintah,” katanya.

Usman menargetkan, dengan upaya menggencarkan edukasi kepada ibu hamil, angka kasus kekerdilan setiap tahun dapat terus ditekan hingga pada angka nol.

“Target kami pastinya nol kasus stunting, karena kasus stunting dan kurang gizi bisa mengancam generasi mendatang,” ujarnya. (Ant)