Dinkes Mataram: Pelaku Perjalanan Bisa Menambah Kasus Positif COVID-19

229
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan para pelaku perjalanan keluar daerah bisa berkontribusi menambah jumlah pasien positif COVID-19 di daerah itu.

“Bagaimana kasus postif COVID-19 di Mataram tidak terus naik, karena pelaku perjalanan keluar daerah saat ini berkontribusi, mereka harus melakukan tes cepat dan usap COVID-19 secara mandiri,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Rabu.

Menurutnya, adanya kebijakan pemerintah yang membuka peluang bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan keluar daerah selama 3 hari harus melakukan tes cepat dan perjalanan seminggu harus tes usap, menyumbang penambahan jumlah kasus positif COVID-19 di Mataram.

“Saya baru dapat laporan, ada beberapa orang yang akan melakukan perjalanan keluar daerah dan melakukan tes usap mandiri di Rumah Sakit Unram. Hasilnya, ada 9 di antaranya dinyatakan positif COVID-19,” katanya.

Ia mengakui saat bulan puasa tren pasien positif COVID-19 berasal dari kalangan tenaga kesehatan (nakes), namun saat ini pasien nakes sudah sangat minim, tapi muncul lagi masalah lain.

“Jadi sekarang setiap orang yang mau keluar daerah, berpotensi menambah jumlah kasus positif COVID-19 di daerah ini,” katanya.

Dalam hal ini, pihaknya tidak bisa melakukan pencegahan sebab itu menjadi hak warga berangkutan karena berbagai kepentingan sehingga harus melakukan perjalanan keluar daerah.

“Itu menjadi bagian konsekwensi yang harus kita terima. Kalau sudah tes usap hanya dua kemungkinan, positif atau negatif,” katanya.

Ditambahkannya, berdasarkan data terakhir Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Mataram, pada Selasa 9 Juni 2020, pukul 20.00 Wita, tercatat jumlah pasien positif COVID-19 secara akumulasi sebanyak 333 orang.

Dengan rincian 132 orang masih dalam perawatan dalam kondisi baik, 186 orang sembuh, dan 15 orang meninggal dunia. Sedangkan pasien dalam pengawsaan (PDP) 272 orang, orang dalam pemantauan (ODP) 48 orang dan orang tanpa gejala (OTG) 23 orang. (Ant)