Kasus Positif COVID-19 di Mataram Bertambah 36 Orang

Mataram (Inside Lombok) – Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan jumlah tambahan kasus positif baru COVID-19 di kota itu pada Kamis (28/1/2021) pukul 12.00 Wita, sebanyak 36 orang dan satu meninggal dunia karena komorbid.

“Dengan tambahan kasus tersebut, maka total kasus COVID-19 di Kota Mataram menjadi 1.762, masih dalam perawatan 301 orang, sembuh 1.357 orang, dan 104 meninggal dunia,” kata Anggota Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram I Nyoman Swandiasa di Mataram, Kamis.

Menurutnya, tambahan pasien COVID-19 yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir ini, masih merupakan klaster perkantoran, pelaku perjalanan keluar daerah, dan berkembang menjadi klaster keluarga.

Karena itu, lanjut Swandiasa, peningkatan kasus dalam beberapa hari terakhir ini bisa bepotensi meningkatkan status Mataram masuk zona merah.

“Tapi kita harapkan, kondisi ini bisa segera melandai pada titik koordinat. Fase ini memang sudah diprediksi Satgas COVID-19,” katanya.

Terkait dengan itulah Satgas COVID-19 Kota Mataram, terus meningkatkan sosialisasi upaya pencegahan COVID-19 melalui gerakan 5M yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan.

“Harapan kita, masyarakat bisa kooperatif dukung pemerintah memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di daerah ini serta meningkatkan imunitas,” katanya.

Dikatakan, perkembangan kasus COVID-19 di daerah ini sangat fluktuatif dan dinamis. Pasalnya, penyakit COVID-19 ini merupakan penyakit baru, bahkan negara-negara maju lainnya belum punya pengalaman dalam menanganai dan mengelola pandemi COVID-19.

“Dinamika terhadap data dan pola penanganan juga sangat dimanis, sehingga wajar jika saat ini ada sekitar 40 persen kasus COVID-19 yang sumber penularannya belum diketahui,” katanya.

Menurutnya, apabila sumber penularannya belum diketahui hal itu sangat berpengaruh terhadap upaya Satgas COVID-19, dalam upaya memutus mata rantai penyebaran melalui penelusuran kontak.

“Sekitar 40 persen kasus COVID-19 yang sumber penularannya belum diketahui itu bisa jadi juga karena masih adanya pasien yang tidak jujur saat dimintakan keterangan,” ujarnya. (Ant)