Kominfotik NTB: Jangan Kendor Menjalankan Disiplin Protokol COVID-19

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Nusa Tenggara Barat menyerukan masyarakat untuk tidak kendor dalam menjalankan disiplin protokol kesehatan COVID-19, mengingat jumlah warga yang terpapar virus Corona di provinsi itu hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

“COVID-19 di daerah kita hingga saat ini belum menunjukkan tanda tanda penurunan. Meski di delapan kabupaten/kota angka kasus baru dan kesembuhannya sudah cenderung terkendali karena sigapnya pemerintah daerah dan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Namun jumlah pasien positif COVID-19 di daerah kita hingga Sabtu, (11/7) sudah tercatat sebanyak 1.548 orang. Dari jumlah itu, sudah sembuh sebanyak 967 orang dan masih positif dalam perawatan di berbagai rumah sakit rujukan maupun rumah sakit darurat sebanyak 501 orang,” kata Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB, I Gede Putu Aryadi di Mataram, Minggu.

Ia mengakui, bahwa penambahan jumlah warga terpapar COVID-19 masih terus terjadi di Kota Mataram dan sebagian kecamatan di Kabupaten Lombok Barat yang berbatasan dengan Kota Mataram sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan Provinsi NTB yang lebih dikenal dengan sebutan Bumi Gora itu.

“Kondisi itu harus menyadarkan kita semua, terutama warga yang tinggal di Kota Mataram harus benar-benar instrospeksi diri. Penambahan jumlah pasien positif dan besarnya jumlah kematian, barangkali menjadi cermin bagi siapapun di kota ini, bahwa selama ini mungkin kita kurang perduli atau belum memiliki ketaatan dan kepatuhan kolektif untuk saling melindungi. Dengan cara menerapkan protokol kesehatan secara disiplin, tulus dan mau/komitmen untuk menjadikannya sebagai kebiasaan baru yang baik atau tatanan baru yang menyelamatkan hidup kita bersama,” jelasnya.

Menurutnya, semangat untuk mulai terbiasa menggunakan masker, mengamalkan hidup bersih dan sehat, jaga jarak dan cuci tangan pakai sabun pada air mengalir, menghindari kerumunan dan standar kesehatan lainnya, sama sekali tidak boleh kendor.

“Jangan pula pernah percaya jika ada oknum atau informasi hoaks yang mengatakan “tidak ada corona” bahkan lebih sadis lagi, jika ada oknum yang bilang “tidak ada kematian karena COVID-19,” ujarnya.

“Isu murahan seperti itu, sungguh tidak benar. Bahkan bisa menyesatkan. Karena faktanya hingga saat ini, COVID-19 di NTB telah menyebabkan 80 orang meninggal dunia. Korban meninggal tersebut terdiri dari 46 orang di Kota Mataram, 22 orang di Kabupaten Lombok Barat, 4 orang di Lombok Tengah dan 2 orang di Lombok Timur. Pasien meninggal juga terjadi di Lombok Utara 2 orang serta di Kabupaten Dompu, Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa, masing-masing telah meninggal 1 orang,” sambung Aryadi.

Untuk menghindari jatuhnya korban dan penularan lebih luas, maka tidak ada cara lain yang patut dilakukan bersama, kecuali tetap patuh mengikuti tatanan baru atau pola hidup baru dalam seluruh kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Yakni secara ketat mematuhi protokol kesehatan pada seluruh aktivitas, dengan selalu menggunakan masker, menjaga jarak saat berkunjung ke pusat-pusat keramaian seperti pasar, pusat perbelanjaan, destinasi wisata alam/pantai atau kantor dan aktivitas sosial lainnya yang telah menerapkan standar layanan untuk keselamatan pengunjung.

Demikian juga setiap individu dan kelompok warga harus benar-benar memperhatikan dan disiplin pada protokol kesehatan ini. Selain menggunakan masker, juga harus mencuci tangan pakai sabun pada air mengalir setiap saat setelah mengambil atau memegang sesuatu, menjaga pola hidup bersih dan sehat, tetap optimis dan semangat serta lindungi kelompok rentan terutama anak-anak, orang tua dan orang-orang terdekat kita yang memiliki penyakit komorbid agar untuk sementara waktu tidak beraktivitas diluar rumah.

“Mari kita terus memperkuat kolaborasi, kerja sama dan tetap semangat untuk melakukan pembinaan, sosialisasi dan edukasi secara humanis dan persuasif untuk meminimalisir jatuhnya korban akibat ganasnya pandemi COVID-19 yang bisa saja menyasar siapapun tanpa pandang bulu,” katanya. (Ant)