RSUD Mataram Siapkan Ruang Isolasi Permanen Pasien COVID-19

Mataram (Inside Lombok) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan menyiapkan ruang isolasi permanen untuk penanganan pasien COVID-19, dengan kapasitas maksimal 15 orang pasien pada tahun 2021.

“Ruang isolasi pasien COVID-19 yang ada saat ini memiliki kapasitas 100 tempat tidur, tapi menggunakan ruang isolasi sementara dengan memanfaatkan ruang yang ada ketika terjadi lonjakan pasien COVID-19 di awal pandemi,” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr H Lalu Herman Mahaputra di Mataram, Selasa.

Seiring dengan penurunan jumlah pasien COVID-19, katanya, jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di RSUD Kota Mataram, hanya sekitar satu atau dua pasien saja.

“Jadi ruang isolasi sementara yang kita siapkan dengan kapasitas 100 orang terlalu besar. Karena itu, kita akan bangun ruang isolasi permanen dengan kapasitas lebih kecil atau maksimal 15 pasien,” katanya.

Menurutnya, ruang isolasi permanen pasien COVID-19 akan dibangun di bagian belakang gedung unit gawat darurat (UGD) yang saat ini dalam tahap perluasan bersama dengan gedung pemulasaran jenazah dengan anggaran Rp10 miliar.

“Tahun depan, kita telah usulkan anggaran Rp8 miliar lagi untuk merampungkan bangunan tersebut termasuk untuk ruang isolasi COVID-19 di gedung belakang lantai tiga,” sebutnya.

Menurutnya, alasan kapasitas ruang isolasi yang disiapkan tersebut tidak terlalu luas, karena RS rujukan COVID-19 sebenarnya berada di RSU Provinsi NTB.

RSUD Kota Mataram, menyiapkan ruang isolasi untuk pasien COVID-19 sebagai langkah antisipasi, seperti RS di kabupaten dan kota lainnya.

“Kalau ada lonjakan pasien, kita akan berkoordinasi dengan RSU Provinsi NTB, sebab RSU provinsi sudah memiliki gedung khusus isolasi COVID-19 sekitar 5 atau 8 lantai,” ujarnya.

Lebih jauh, dokter Jack begitu Dirut RSUD Mataram ini akrab disapa, kendati RSUD Mataram saat ini hanya menangani 1-2 pasien COVID-19, tetap menyiapkan tenaga medis penanganan COVID-19, termasuk untuk kegiatan tes usap (swab) COVID-19 tetap dilakukan meskipun jumlahnya sangat minim.

“Ini menjadi satu indikasi perkembangan COVID-19 di Mataram sudah baik, namun masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19 dimanapun,” katanya. (Ant)