26.5 C
Mataram
Senin, 15 Juli 2024
BerandaLombok BaratPengelola Homestay Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Lobar Berupaya Perangi Stigma Negatif

Pengelola Homestay Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Lobar Berupaya Perangi Stigma Negatif

Lombok Barat (Inside Lombok) – Para pengelola homestay berbasis masyarakat yang ada di desa wisata di Lobar terus berupaya memerangi stigma negatif dari masyarakat. Pasalnya, bisnis homestay masih sering disalahartikan, dan dipandang bisa disalahgunakan untuk hal-hal negatif.

“Homestay-homestay di desa wisata ini kan mengedepankan kearifan lokal, budaya setempat, dan mereka juga sudah paham (aturan-aturan),” ujar Kabid Pengembangan SDM Pariwisata Dispar Lobar, Erwin Rachman.

Diakuinya, homestay berbasis masyarakat di Lobar memiliki jumlah kamar di bawah lima. Para pemilik pun harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sesuai dengan regulasi yang ada di Kemenparekraf, sehingga keberadaan mereka diakui secara legal. “Makanya kenapa homestay berbasis masyarakat yang ada di desa wisata itu kata stay-nya dihilangkan, untuk menghilangkan image negatif. Makanya namanya ada yang Danny Home, atau ada juga yang namanya Cemare Cottage,” terangnya saat turun kunjungan ke homestay yang ada di Desa Wisata Sesaot.

Dispar Lobar bersama Lombok Homestay Association (LHA) pun akan tetap memberikan pendampingan dan pemberdayaan kepada para pengelola homestay di desa wisata untuk dapat memastikan pelayanan homestay mereka tidak menyimpang dan berjalan sesuai ketentuan. “Belum ada, insyaallah tidak ada (keluhan atau pun persoalan dengan masyarakat setempat),” ungkapnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Windi Lestari salah seorang pengelola homestay di Lobar menuturkan cikal bakal homestay yang ada di Sesaot tersebut sudah ada yang sudah berdiri sejak tahun 2012 silam. Namun, akhirnya resmi menjadi homestay berbasis masyarakat sejak 2021 lalu, ketika Sesaot masuk kategori dalam ajang Anugerah Desa Wisata (ADWI).

“Untuk menghilangkan konotasi negatif, itu makanya kenapa homestay ini dihilangkan kata ‘stay’ nya. Jadinya ‘home’, atau rumah gitu,” terang Windi. Keberadaan homestay berbasis masyarakat tersebut diakuinya sudah lama bisa diterima oleh masyarakat setempat. “Jadi ya, biasa-biasa aja sih penerimaan masyarakat. Cuma, kita sekarang ini lebih menyiapkan mereka (masyarakat setempat) menerima tamu-tamu asing,” lanjutnya.

Terlebih, target pemasaran homestay miliknya memang ditujukan bagi para wisatawan luar, baik lokal maupun mancanegara yang memang tujuannya untuk berwisata. Bahkan, sejauh ini, kata Windi, sebagian besar tamunya justru datang bersama keluarga. “Mereka (masyarakat tidak komen). Mereka paham bahwa misal cara berpakaian bule, itu merupakan budaya mereka (wisatawan mancanegara). Asal jangan kita yang di sini yang mengikuti budaya mereka,” pungkasnya.

Oleh karena itu, justru pihaknya aktif memperkenalkan budaya lokal setempat kepada para tamunya yang menginap. Hingga mereka bahkan dapat berbaur mengikuti berbagai kegiatan bersama masyarakat. (yud)

- Advertisement -

Berita Populer