26.5 C
Mataram
Jumat, 19 Juli 2024
BerandaLombok TimurJelang Iduladha, Harga Sapi di Lotim Mulai Naik di Tingkat Peternak

Jelang Iduladha, Harga Sapi di Lotim Mulai Naik di Tingkat Peternak

Lombok Timur (Inside Lombok) – Menjelang Iduladha atau Hari Raya Kurban, harga hewan ternak seperti sapi saat ini mulai menunjukkan kenaikan di Lombok Timur, khususnya di tingkat para peternak. Kenaikan harga ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga hampir terjadi untuk semua jenis sapi, baik itu lokal (biasa), limosin, simmental, dan lainnya. “Alhamdulillah kenaikannya sudah terlihat sejak minggu terakhir ini menjelang Iduladha meski tak melonjak. Beda dengan saat perayaan ibadah haji, harganya masih biasa saja,” ucap Ketua Kelompok Ternak Saling Kangen, Handri, Rabu (05/06/2024).

Harga sapi sendiri mengalami kenaikan pada kisaran harga Rp12 -13 juta untuk sapi biasa, di mana harga sebelumnya mencapai Rp 10 juta tergantung dari ukuran dan beratnya. Sedangkan untuk sapi simmental, Limosin dan sapi dengan ukuran besar lainnya kini berada pada kisaran Rp16-20 juta per ekornya. “Untuk kisaran harganya tergantung dari jenis dan bobotnya,” terangnya.

Permintaan sapi kurban tahun ini, dikatakan Handri lebih meningkat dari tahun sebelumnya sehingga harganya pun ikut meningkat. Beberapa peternak pun ada yang menahan ternaknya terlebih dahulu dan akan dijual ketika mendekati Iduladha, sebab diperkirakan harganya bisa meningkat lagi.

- Advertisement -

“Biasanya harga akan meningkat ketika jelang lebaran, makanya banyak teman-teman peternak yang menahan ternaknya meski banyak yang sudah menawar,” katanya. Naiknya harga sapi ini kembali diharapkan oleh para peternak dapat mengembalikan modalnya kembali setelah beberapa waktu lalu merugi akibat penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak mereka.

Dijelaskan Handri, saat ini jumlah anggota pada kelompok ternaknya sebanyak 50 orang dengan populasi sapi mencapai 200 ekor lebih. Ternak dari kelompoknya pun sebagian besar dipersiapkan untuk mensuplai kebutuhan permintaan di dalam Lombok Timur. “Sapi yang ada di kelompok Saling Kangen tidak kami bawa keluar, melainkan dijual di dalam daerah untuk mengantisipasi adanya penyakit menular lagi,” pungkasnya. (den)

- Advertisement -

Berita Populer