Balapan Kuda dan Joki Cilik di Dompu Warnai FPT 2019

6 ekor kuda memulai start Balapan Kuda Tradisional di Arena Pacuan Kuda Lembah Kara, Rabu (10/04/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Dompu (Inside Lombok) – Di Dusun Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu setiap tahunnya para wisatawan dapat menikmati suguhan atraksi Balapan Kuda Tradisional (BKT) yang sering disebut “Pacoa Jara” di Arena Pacuan Kuda Lembah Kara. Pada atraksi tersebut, para Joki Cilik berlomba memacu kuda mereka untuk memenangkan balapan.

Beberapa tahun terakhir, balapan kuda tradisional tersebut mulai dijadikan event tahunan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai rangkaian dari Festival Pesona Tambora (FPT) 2019. Untuk tahun 2019 sendiri balapan pacuan kuda tersebut memperebutkan hadiah dengan total Rp500 juta.

Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Dompu sekaligus Ketua Panitia BKT-FTP, Muhamad Amin Jafar, menerangkan bahwa balapan kuda tersebut sudah menjadi atraksi budaya turun-temurun yang diselenggarakan oleh masyarakat Dompu dan sekitarnya. Selain itu, BKT tersebut juga sekaligus ajang menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Beberapa kuda berpacu menjadi lebih cepat di Balapan Kuda Tradisional meearnai Festival Pesona Tambora 2019 (Inside Lombok/Bayu Pratama)

“Latar belakangnya itu kita untuk menjaga budaya. Selain itu juga menumbuhkan pendapatan ekonomi masyarakat pencinta kuda. Kita setiap malam mengalami perubahan pemilik (kudan, Red) karena mereka selalu transaksi beli,” ujar Amin, Rabu (10/04/2019) saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Asisten III Setda Dompu ini juga menerangkan bahwa kuda-kuda yang mengikuti BKT-FTP, yang semula harganya hanya belasan juta, bisa naik hingga puluhan juta jiga sudah masuk ke putaran ke-tiga perlombaan. Hal tersebut yang menjadi daya tariklainnya sehingga memancing peserta dari luar Dompu.

“Pesertanya ada dari NTT juga, Mataram, Lombok Tengah, Sumbawa,” ujar Amin.

Untuk tahun 2019 sendiri ada sekitar 600 kuda yang dibagi ke dalam 14 kelompok yang disusun berdasarkan tinggi dan usia kuda. Seluruh kuda tersebut akan berlomba adu cepat dalam satu putaran di lintasan sepanjang 1200 meter dengan ditunggangi oleh Joki Cilik yang berusia antara 4-10 tahun.

Kebanyakan Joki Cilik tersebut sendiri merupakan anak-anak sekitar Kabupaten Dompu yang disewa oleh pemilik kuda untuk menjadi joki. Masing-masing joki tersebut mendapat bayaran antara Rp50-100 ribu dalam sehari. Jika kuda yang ditungganginya menang, Joki Cilik tersebut akan menerima bayaran antara Rp1-2 juta.

Salah satu joki cilik, Muhammad Ali, bersiap-siap mengikuti Balapan Kuda Tradisional di Arena Pacuan Kuda Lembah Kara (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Salah satu Joki Cilik, Muhammad Ali, menerangkan bahwa dirinya telah memulai latihan berkuda sejak masih kelas satu (1) Sekolah Dasar. Ali mengaku senang mengikuti balapan kuda tersebut karena bisa menambah uang sakunya.

“Saya senang, tidak pernah takut,” ujar Ali saat dimintai komentarnya, Rabu (10/04/2019), di tengah-tengah acara.

Ali sendiri telah lima (5) kali berganti kuda tunggangan dari 5 orang pemilik kuda yang berbeda. Sejak hari pertama BKT pada tanggal 31 Maret 2019 sampai dengan hari terakhir pada 10 April 2019, Ali telah memacu kudanya sebanyak 25 kali.

“Kakak saya juga joki. Saya juga, kami sekeluarga jadi joki,” tegas Ali.

Di Dompu sendiri profesi menjadi Joki Cilik memang diwariskan turun-temurun sebagai tradisi. Namun dalam prosesnya, orang tua si Joki tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi penunggang kuda. Hal tersebut karena mereka percaya, jika si anak menunggang kuda karena paksaan, maka hanya akan mendatangkan celaka dalam prosesnya.

Para peserta sendiri datang dari berbagai daerah dan beberapa di antaranya memilih membangun tenda di sekitar arena pacuan. Untuk datang ke lokasi sendiri, masing-masing kelompok menghabiskan biaya berkisar antara Rp2-4 juta.