Berwisata Sambil Belajar Sejarah di Kota Tua Ampenan

Mataram (Inside Lombok) – Lombok selalu diidentikkan dengan pantai yang indah. Tapi tak banyak yang tahu mengenai tempat-tempat yang menyimpan cerita bersejarah pada masa lalu. Salah satunya adalah Kota Tua Ampenan yang berada di Kota Mataram.

Berkunjung ke kawasan ini membuat kita bercengkrama dan bernostalgia dengan suasana kehidupan masa lalu. Sebab kawasan ini dipenuhi oleh berbagai bangunan kuno dengan arsitektur luar mulai dari arsitektur Cina hingga Kolonial. Bangunan ini tak jarang dijadikan tempat wisata sejarah dan spot foto yang instagramable.

Dahulu, kawasan ini merupakan pelabuhan utama di Pulau Lombok yang bernama Pelabuhan Ampenan. Perkembangan Kota Tua Ampenan bermula sejak ditetapkannya menjadi pusat kegiatan perdagangan di Lombok pada tahun 1840 oleh Kerajaan Mataram. Banyak para pedagang datang dari dalam negeri, seperti Bugis, Banjar, dan Melayu, serta dari luar negeri, seperti Cina dan Arab.

Kawasan Kota Tua Ampenan semakin berkembang seiring dengan dikuasainya Pulau Lombok oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1894. Pemerintah kolonial Belanda membangun sarana dan prasarana pelabuhan, seperti dermaga dan gudang-gudang untuk penampungan barang.

Tak hanya berdagang, para pendatang dari luar juga menetap dan bermukim di kawasan Ampenan. Salah satunya adalah masyarakat etnis Tionghoa yang masih ada hingga sekarang.

Bukti kedatangannya di kawasan Ampenan dapat dilihat dari tinggalan bangunan-bangunan yang masih ada hingga sekarang. Salah satunya adalah gedung Hokkian Kong Hwee di ruas Jalan Koperasi. Dulu, gedung ini digunakan sebagai tempat perkumpulan warga Hokkian (Fujian) yang bermukim di Kawasan Kota Tua Ampenan.

Selain itu, terdapat Klenteng Po Hwa Kong atau yang sering disebut Vihara Bodhi Darma. Klenteng berdiri pada tahun 1840 dan menjadi klenteng tertua yang berada di Pulau Lombok.

Klenteng ini digunakan oleh umat Tri Dharma, yaitu Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha untuk beribadah hingga sekarang. Di dalamnya terdapat 12 altar dengan Dewa utamanya adalah Fu Cen Yen.

Klenteng ini memiliki langgam arsitektur Cina yang membedakannya dengan bangunan-bangunan lain yang berada di sekitarnya. Warna merah mendominasi lain yang memiliki makna keberuntungan layaknya bangunan-bangunan Cina lain.

Klenteng ini berada dengan deretan-deretan ruko-ruko lain di Jalan Paben yang menjadi tempat bermukimnya masyarakat etnis Tionghoa dari dulu hingga sekarang. Deretan ruko-ruko yang berada di koridor utama ini banyak yang telah dialihfungsikan menjadi kafe dan restoran.

Salah satunya adalah Kota Tua Kopi. Tempat ini kerap didatangi masyarakat untuk meminum secangkir kopi kopi sambil menikmati suasana kota tua. Deretan ruko-ruko tua yang berada di koridor utama ini juga kerap dijadikan spot foto para wisatawan.