BTNGR Pertimbangkan Buat Jalur Baru Pendakian Rinjani

Mataram (Inside Lombok) – Setelah ditutup sejak 1 Januari 2019 karena gempa yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB), sampai hari ini pendakian menuju Gunung Rinjani belum juga mendapat izin terkait masalah keamanan terkait perubahan bentuk permukaan, kepadatan tanah, dan rusaknya beberapa fasilitas di sepanjang jalur pendakian Gunung Rinjani sendiri.

Beberapa pihak terus mendesak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) selaku pengelola kawasan Gunung Rinjani agar segera membuka jalur pendakian. Mengingat begitu banyak palaku usaha, khususnya di bidang pariwisata, yang bergantung pada pendakian Gunung Rinjani tersebut.

Menanggapi hal tersebut Kepala BTNGR, Sudiyono, menerangkan bahwa pihaknya masih terus melakukan survei dan pengecekan kelayakan pendakian menuju Gunung Rinjani. Salah satu upaya yang ditempuh adalah pencarian jalur-jalur alternatif pendakian, terutama dari Pintu Senaru di Kabupaten Lombok Utara dan Pintu Sembalun di Kabupaten Lombok Timur.

“Kalau nunggu sempurna, ya sulit. Tetapi mana yang aman kita akan minta kesepakatan dari para pelaku (peserta rapat kelayakan pendakian Rinjani, Red) supaya tidak ada pelanggaran, tapi wisatawan tetap bisa jalan dan aman,” ujar Sudiyono saat dikonfirmasi Inside Lombok, Sabtu (27/04/2019).

Walaupun begitu, Sudiyono mengakui bahwa pembuatan jalur baru memanglah tidak mudah. Sehingga kemungkinan tersebut hanya akan dilakukan jika jalur pendakian utama saat ini benar-benar sudah tidak layak lagi digunakan.

“Untuk membuat jalur itu kan tidak mudah. Kita hanya ingin cari amannya. Jalur lama yang aman ya tetap dipakai. Seandainya jalur lama tidak memungkinkan, dicari jalur alternatif,” tegas Sudiyono.

Jalur alternatif yang dimaksudkan Sudiyono adalah pembelokan sebagian jalur utama yang sudah ada saat ini. Apakah jalur tersebut akan menjadi lebih jauh atau lebih dekat belum dapat diketahui karena survei kelayakan sendiri akan dilakukan pada Senin (29/04/2019) mendatang.

“Survei senin akan dibahas untuk jalur Senaru, termasuk dari Aik Berik dan Timbanuh. Pertemuan teknis dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kalau yang Sembalun sudah ada peta kerawanan gempa dari PVMBG, sehingga kita tinggal meneruskan saja,” ujar Sudiyono.

Selain itu, Sudiyono juga menerangkan bahwa untuk survei kelayakan kali ini BTNGR agar mengirim Tim Survei dalam jumlah yang lebih kecil. Hal tersebut untuk membuat proses survei lebih efisien dengan tim kecil yang lebih terarah. Survei yang akan dilakukan sendiri mengutamakan dua hal, yaitu pemetaan dampak gempa serta kelayakan topografi dan perbaikan jalur itu sendiri.

“Kita lebih intens (pelaksanaan survei, Red). Sehingga kalau mengikutkan orang, orang-orang yang betul kerja. Tapi kalau ada pihak yang ingin berpartisipasi dengan biaya mandiri kami persilahkan ikut. Tapi harus punya target juga yang mau ikut itu harus tahu mau mengerjakan apa,” pungkas Sudiyono.