Dispar Mataram Ajukan Anggaran untuk Lanjutkan Pembangunan Bale Budaya

Ilustrasi - Seorang laki-laki menyerut kayu untuk pembuatan "Berugak"(bangunan yang terbuat dari kayu digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu dan tempat acara-acara tradisional sasak) di salah satu sentra pengrajin Berugak Lombok di Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari, Gerung, Lombok Barat, NTB, Sabtu (30/10). (Foto: Ahmad Subaidi/ANTARAMataram.com/10)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Pariwisata Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan mengusulkan anggaran untuk melanjutkan pembangunan “Bale Budaya” yang berada di Ruang Terbuka Hijau Pagutan agar dapat segera dimanfaatkan.

“Anggaran akan kami coba usulkan sebesar Rp2,5 miliar pada tahun anggaran 2020, sebab tahun ini sudah tidak bisa diakomodasi,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram I Made Swastika Negara di Mataram, Selasa.

Bale Budaya yang dibangun di areal RTH Pagutan ini, merupakan sebuah “becingah” atau aula serba guna khas Suku Sasak dengan ukuran 48 x 48 meter yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seni dan budaya di kota ini.

Dikatakan, dalam dua tahun terakhir ini Bale Budaya tidak mendapatkan anggaran untuk melanjutkan pembangunan yang kini tinggal tahap penyelesaian, berupa pemasangan berbagai ornamen yang menjadi tahapan inti dan paling rumit bahkan paling berat yang akan dikerjakan.

Bale Budaya tersebut akan dihiasidetail yang menggambarkan kearifan budaya lokal. Ornamen itu merupakan pengerjaan inti dengan bermuatan khas lokal yang sarat dengan berbagai ukiran kayu dan cukli yang merupakan produk unggulan kota ini.

Diharapkan, pembangunan Bale Budaya bisa rampung sesuai target yang ditetapkan pada tahun 2020 karena akan menjadi kado untuk Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram yang telah memimpin Mataram dalam dua periode.

“Untuk merealisasikan target itulah, kami akan berusaha agar usulan pembangunan Bale Budaya tahun depan dapat terealisasi,” katanya.

Menurutnya, pembangunan Bale Budaya ini sudah dilaksanakan dalam dua tahun anggaran yakni mulai 2016 dan 2017, dengan masing-masing anggaran Rp1,9 miliar untuk tahap pertama dan Rp1,4 miliar tahap kedua.

“Kemajuan pembangunan Bale Budaya saat ini sudah tahap pemasangan atap empat penjuru, lantai dasar dan tiang penyangga, jadi tinggal ornamen dan dekorasi lainnya,” katanya.

Ditambahkannya, Bale Budaya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan baik yang dilaksanakan masyarakat maupun pemerintah bahkan untuk kegiatan pelantikan pejabat sekalipun.

Di samping itu, Bale Budaya tidak hanya sebagai tempat pertemuan budaya, melainkan juga menjadi tempat edukasi dan olahraga, Bale Budaya dikelilingi oleh taman yang sudah tertata dengan baik.

“Bale Budaya nantinya akan dikelola sebuah lembaga dan setiap harinya bisa digunakan untuk berbagai kegiatan pelatihan seni dan budaya,” ujarnya. (Ant)