Pemkot Batal Revitalisasi “Mataram Craf Center”

Mutiara Lombok Pemilik Lia Pearl Nurul Aulia menunjukkan mutiara air laut yang terpajang di ruang pamerannya di Ampenan, Kota Mataram, NTB, Jumat (24/11). Pengusaha mutiara Lombok itu mengaku tidak khawatir dengan peredaran mutiara impor asal Tiongkok di Indonesia. (Inside Lombok/ANTARA NTB/Awaludin)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, batal melakukan revitalisasi terhadap pusat kerajinan mutiara di kawasan MCC (Mataram Craf Center) di Sekarbela pada 2019 sehingga anggaran sebesar Rp500 juta yang sudah disiapkan akan dikembalikan ke kas daerah.

Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Mataram Yance Hendra Dirra di Mataram, Jumat, mengatakan pembatalan revitalisasi MCC tahun ini karena Kementerian Perindustrian akan memberikan bantuan sebesar Rp1,3 miliar untuk revitalisasi total kawasan MCC pada 2020.

“Besaran bantuan yang akan diberikan itu sesuai dengan kebutuhan kita untuk merevitalisasi kawasan MCC dan menjadikan MCC sebagai salah satu objek destinasi wisata,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dengan adanya dukungan dana dari kementerian itulah, anggaran sebesar Rp500 juta dari APBD Kota Mataram untuk kegiatan revitalisasi secara bertahap, dibatalkan dan menunggu alokasi anggaran dari Kementerian Perindustrian tahun 2020.

“Jadi kegiatan revitalisasi akan kita laksankana tahun depan secara menyeluruh tanpa menggunakan anggaran pemerintah daerah,” katanya.

Dikatakan, dalam kegiatan revitalisasi MCC sebagai salah satu destinasi wisata telah dibuat detail engineering design (DED) pada tahun 2018, dengan kebutuhan anggaran Rp1,3 miliar.

Dalam DED tersebut, Pemerintah Kota Mataram akan melakukan kegiatan revitalisasi MCC dalam konsep pariwisata dengan pendekatan hiburan dan edukasi, serta menetapkan industri kerajinan emas mutiara sebagai produk unggulan Kota Mataram.

“Kita akan menyediakan miniteater yang akan memutar film durasi pendek tentang bagaimana proses budidaya mutiara hingga menjadi sebuah kerajinan tangan unggulan dan bernilai tinggi,” katanya.

Untuk proses budidaya mutiara air laut, lanjutnya, membutuhkan waktu tiga tahun untuk mendapatkan satu mutiara sehingga wajar kalau harganya mahal, sementara jenis budidaya mutiara air tawar hanya membutuhkan waktu tiga bulan sehingga bisa dipanen tiga bulan sekali dan harganya juga relatif murah.

Selain itu akan diputar juga film pendek tentang proses pembuatan kerajinan mutiara, baik dengan menggunakan mesin maupun murni menggunakan tangan. Untuk jenis, produksi menggunakan mesin harganya sedikit lebih murah karena mudah dibuat dan bisa dibuat dalam jumlah banyak.

“Sedangkan hasil kerajinan tangan murni, harganya lebih mahal karena produksi yang dihasilkan edisi terakhir, hasil desain pengrajin dan dipriduksi terbatas atau sesuai pesanan,” ujarnya.

Dengan demikian, keberadaan MCC tidak hanya fokus sebagai sentra jual beli emas, perak dan mutiara melainkan juga sebagai pusat edukasi, hiburan dan wisata.

Oleh karena itu, tambahnya, pihaknya mengusulkan untuk lebih mengenalkan MCC sebagai destinasi wisata, perlu adanya sebuah program “city tour” dengan menyediakan transportasi publik yang murah, praktis dan aman. (Ant)