Pura Kuno, Warisan Sejarah Umat Hindu di Lombok

Mataram (Inside Lombok) – Lombok dihunj oleh masyarakat dengan mayoritas Suku Sasak dan beragama Islam. Namun, di Pulau Lombok juga terdapat beberapa suku pendatang. Seperti Bali, Jawa, Mbojo, Sanawa, Arab, Cina, dan lain sebagainya.

Salah satu suku pendatang terbanyak di Lombok berasal dari Bali. Oleh karena itu tak heran jika di Lombok banyak terdapat peninggalan sejarah khas Agama Hindu seperti pura kuno.

Selain sebagai tempat ibadah, pura kuno di Lombok juga digunakan sebagai tempat wisata. Apa saja pura-pura tersebut? Simak ulasan berikut:

1. Pura Meru
Pura yang berlokasi di Cakranegara ini merupakan pura yang dibangun pada abad ke-18 Masehi saat Kerajaan Karangasem masih berkuasa di pulau Lombok. Pura ini didirikan dengan tujuan yang penting yaitu untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Lombok pada masa lalu. Sampai saat ini pura ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah agama Hindu, tak jarang juga dijadikan tempat berkunjung para wisatawan.

2. Pura Gunung Pengsong
Nama sebenarnya dari pura ini adalah “Pura Pangsung” yang berarti tempat untuk meminta berkat. Tetapi masyarakat setempat sering menyebutnya Pura Gunung Pengsong karena lokasinya yang berada di Gunung Pengsong, Lombok Barat. Untuk sampai di pura ini, pengunjung harus menaiki sekitar 350 anak tangga.

3. Pura Lingsar
Pura yang berada di Lingsar, Lombok Barat ini dibangun pada abad ke-18 Masehi. Tiap tahun, pura ini menjadi lokasi Perang Topat (Perang Ketupat) yang menjadi simbol persatuan masyarakat Islam dengan Hindu. Keberadaan pura ini berdampingan dengan Kemaliq Lingsar yang dikeramatkan atau disucikan oleh masyarakat Suku Sasak.

4. Pura Suranadi
Pura yang satu ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu mempunyai lima pancuran suci yang bersumber dari Gunung Rinjani. Kelima pancuran tersebut oleh masyarakat dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit atau dalam bahasa Sasak disebut ngentas male. Selain itu, masyarakat Hindu berkeyakinan bahwa setelah berdoa dan menyucikan diri menggunakan kelima pancuran akan mendapat suatu kehidupan baru.

5. Pura Batu Bolong
Penamaan itu karena di pura ini terdapat batu besar yang bolong pada bagian tenganya. Menurut sejarah, pura ini dibangun oleh Resi bernama Dang Hyang Dwijendra dari Jawa Timur. Pura ini berlokasi di pinggir pantai daerah Senggigi yang berhadapan langsung dengan Selat Lombok. Tak jarang para wisatawan datang untuk berkunjung menikmati Pura Batu Bolong sambil duduk santai melihat pemandangan laut.