Wisata Alam Non-Pendakian Dibuka dengan Tambahan Kuota Kunjungan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Wisata alam non pendakian banyak diminati wisatawan. Tak kalah dengan wisata alam pendakian yang selalu ramai dikunjungi. Sebelumnya, wisata alam non pendakian lebih dulu dibuka dengan kuota yang sedikit dan kini kuotanya ditambah menjadi 50 persen.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Dedy Asriady mengatakan bahwa wisata alam non pendakian sudah lebih dulu dibuka dengan kuota yang lebih sedikit. Bertepatan dengan dibukanya wisata TNGR, kuota kunjungan ditambah menjadi 50 persen dari kunjungan wisatawan sebelum masa Pendemi Covid-19.

“Dirjen¬†Konservasi Sumber Daya Alam¬†(KSDAE) telah memberikan arahan dan persetujuan untuk meningkatkan kuota kunjungan pada destinasi non pendakian TNGR yang telah dibuka sebelumnya menjadi 50 persen,” ucapnya.

Delapan Wisata alam non pendakian yang telah dibuka yaitu Otak Kokok Joben dengan kuota maksimal 325 pengunjung per hari, Telaga Biru 220 per hari, Air Terjun Jeruk Manis 200 pengunjung per hari, Gunung Kukus 150 pengunjung per hari.

Lanjutnya, Timbanuh dengan kunjungan maksimal 100 per hari, Aik Sebau maksimal 36 pengunjung per hari, Savana maksimal 250 per hari, dan Air Terjun Mangku Sakti maksimal 150 pengunjung per hari.

“Hal tersebut dilakukan guna mendukung kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNGR,” ucapnya.

Wisata non pendakian yang menjadi favorit untuk camping juga telah dibuka dengan kuota yang sudah ditentukan.

Wisata non pendakian sebagai lokasi Hiking dan Camping yang sudah dibuka yaitu Treng Wilis, Bendungan Ulem Ulem, Tangkok Adeng, Bukit Gedong, dan Bukit Malang.

Penyelenggaraan wisata alam tersebut harus dengan mempertimbangkan status wilayah keberadaan lokasi wisata yang ada.Dimana sesuai ketentuan BNPB Rl selaku pelaksana Gugus Percepatan Penaggulangan Bencana Covid-19, bahwa wilayah wisata yang boleh dibuka adalah daerah zona hijau dan kuning.

“Sehingga sistemnya nanti kita berlakukan buka tutup. Karena sangat tergantung dengan Iokasi wisata setempat apakah masuk zona hijau,kuning ataupun zona merah. Karena itu kita sangat butuh kerjasama semua pihak untuk bersama-sama menekan penyebaran Virus Covid-19 dI lokasi wisata,”tutupnya.