Banyak Siswa Tak Punya Telepon Pintar, Belajar Daring Dinilai Kurang Efektif

Kepala dinas pendidikan Lombok Barat, H. Nasrun, saat ditemui di kantor Dinas pendidikan Lombok Barat, Selasa (01/09/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Proses pembelajaran daring (dalam jaringan) dirasa kurang efektif. Mengingat masih banyak siswa yang tidak memiliki telepon pintar.

Salah satunya di SDN 01 Desa Mesanggu, Gerung. Pihak sekolah lebih memilih untuk melakukan proses pembelajaran Luring (luar jaringan). Karena hal tersbeut dirasa jauh lebih efektif untuk memberi materi pelajaran dan pemahaman mengenai penerapan protokol kesehatan kepada para peserta didiknya.

“Kalau kendala Daring ini karena kita di daerah pedesaan, rata-rata anak kan tidak memiliki HP android” kata kepala sekolah SDN 1 Mesanggu, Nasri, saat ditemui di ruangannya, Selasa (01/09/2020).

Kendala terbesar daring yang ada di wilayah tersebut tidak hanya terkait dengan permasalahan kuota seperti yang banyak dikeluhkan masyarakat luas. Tetapi lebih kepada kondisi masyarakatnya yang juga karena banyak siswa yang tidak memiliki smart phone atau telepon pintar.

“Rata-rata kendalanya itu, karena bahkan ada anak yang tidak memiliki hp” ungkapnya.

Namun terkait dengan kebijakan kementrian pendidikan yang akan membagikan kuota bagi siswa dan guru. Dirinya menyebutkan bahwa hal tersebut untuk saat ini masih belum ada realisasinya

“Untuk saat ini kan itu masih belum ada realisasinya” sebut kepala sekolah SDN 1 Mesanggu ini.

Dirinya kemudian menyambungkan, kalaupun ada wacana pemberian kuota dari dana bos, tetapi yang menjadi permasalahan bahwa masih banyaknya siswa di sekolah tersebut yang tidak memiliki smart phone yang bisa digunakan untuk belajar Daring.

“Kemarin walaupun ada wacana dari dana bos, tapi kan karena itu tadi, alat (smart phone) untuk mengisi kuota itu kan tidak ada” imbuhnya.

Sehingga dirinya menyebutkan bahwa sekolah tersebut sejauh ini lebih efektif dalam menerapkan sistem Luring.

Dengan jumlah 160 siswa yang ada di sekolah tersebut, pembagian kelompoknya didasarkan pada jumlah siswa perkelasnya. Kelompok belajar yang telah dibentuk ini pun belajarnya di lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk penerapan protokol covid-19.

Nasri menyebutkan, ada kelompok belajar yang difasilitasi untuk belajar di rumah Ketua RT setempat.Ada juga kelompok yang belajar di salah satu rumah siswa yang halamannya terbilang luas. Sehingga dalam proses Luring tersebut, physical distancing dapat tetap diterapkan.

“Kalau jumlah siswa di kelas itu banyak, perkelompoknya dibagi jadi 10 . Kalau jumlah siswa di kelas itu sedikit ya, kelompoknya dibagi menjadi 5 dan itu yang rutin dipantau oleh gurunya” tandas Kepala sekolah SDN 1 Mesanggu ini.

Dalam proses Luring tersebut, para guru akan mendatangi masing-masing kelompok belajar yang telah dibentuk. Baik itu untuk memberikan materi pelajaran atau pun untuk menarik pengumpulan tugas yang sudah dikerjakan oleh peserta didiknya.

Di sini setiap guru yang memiliki jadwal untuk mendatangi kelompok beljar, tetap harus mengutamakan penerapan protokol covid, dengan membawakan handsanitizer untuk digunakan sebelum memulai proses pembelajaran.

Kendati hingga saat ini sekolah masih tetap belum dapat dilaksanakan dengan tatap muka langsung.

“Tapi sejauh ini, siswa-siswi di sini masih tetap bertahan bersekolah meskipun banyak kendala dalam sistem Daring ini, tidak ada yang sampai putus sekolah” pungkasnya.

Para siswa di sekolah tersebut, kata Nasri, begitu antusias untuk dapat bersekolah dengan normal kembali. Tetapi, tentu saja untuk saat ini pihak sekolah masih menunggu instruksi lanjutan dari dinas dan pemerintah daerah terkait kapan pembukaan kembali sekolah secara tatap muka.

“Antusias sebenarnya anak-anak mau masuk tapi kita kan kendalanya itu aja, kita masih di zona yang belum aman. Akhirnya kita ya harus menunggu instruksi dinas dan pak bupati untuk itu” tutupnya.

Menanggapi hal yang menjadi hambatan dalam proses Daring tersebut, H. Nasrun selaku kepala Dinas Pendidikan Lombok Barat saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa, Walaupun Daring ini dinilai kurang efektif dalam proses pembelajaran di masa transisi ini, tetapi hal tersebut adalah salah satu solusi yang bisa diterapkan Guna tetap berjalannya proses belajar mengajar.

“Daring ini memang tidak bisa dikatakan efektif, tapi ini kan keadaan darurat. Dalam keadaan darurat kita tidak bisa bicara masalah efektif atau tidak efektif yang penting kita jalan dulu, ” sebut Kepala Disdik Lobar ini.

Terkait dengan adanya wacana pemberian kuota gratis dari kementerian pendidikan, H. Nasrun mengakui bahwa untuk saat ini Dinas pendidikan Lombok Barat belum menerima adanya surat edaran resmi terkait hal tersebut.

“Terkait soal itu kuota belum terima surat edaran, masih informasi kita dengar Menteri pidato. Tapi secara resmi surat kita belum terima” pungkasnya.